Menurut dia, pertimbangan untuk memboyong mantan anggota teroris dengan alasan kemanusiaan justru menyesatkan.
"Saya pribadi melihat berpikir untuk mengembalikan 600 (WNI) ini saja sebuah kesesatan," kata Willy dalam sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (9/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam proses ini kemanusiaan sebagai entry point sebagai cover story," singgung dia.
Dalam hal ini, kata Willy, WNI yang telah bergabung dengan kelompok teroris sebenarnya telah meninggalkan negaranya untuk sebuah ideologi. Oleh sebab itu, memulangkan WNI eks ISIS tersebut hanya menjadikan sebuah negara menerima penyakit baru.
"Kalau toh mengembalikan teman-teman disini imigran yang mendapat pelanggaran HAM, kekerasan itu lebih layak dikembalikan," jelas dia.
[Gambas:Video CNN]
Oleh sebab itu, kata Willy, wacana pemulangan itu harus dijadikan pemerintah sebagai saat untuk melawan propaganda tentang terorisme tersebut. Dalam hal ini, terkait penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai kejahatan terorisme yang sangat membahayakan.
"Selama ini yang terpapar melalui proses rekrutmen melalui media sosial. Kita kembali gunakan media sosial untuk sosialisasi ini loh dampaknya (terorisme), ini bukan main-main," ucap Willy.
Sebelumnya, publik dihebohkan dengan wacana pemulangan sekitar 600 orang WNI eks ISIS. Wacana itu kembali muncul ke publik pidato Menteri Agama Fachrul Razi pada Sabtu (1/2) di kawasan Ancol, Jakarta.
Di tempat terpisah, Menko Polhukam Mahfud MD membenarkan sedang ada kajian di internal pemerintah terkait nasib 660 WNI eks ISIS. Mahfu bilang Presiden Jokowi bakal memutuskan hal itu pada Mei 2020.