Ketua DPRD DKI Tuding Anies Manipulasi Surat soal Formula E

CNN Indonesia | Kamis, 13/02/2020 17:08 WIB
Ketua DPRD DKI, Prasetio Edi bakal memanggil Anies Baswedan mengklarifikasi surat balasan yang dinilainya terdapat manipulasi soal rekomendasi. Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memanipulasi surat balasan soal ajang balap Formula E yang dikirimkan kepada Menteri Sekretaris Negara Pratikno pada 11 Februari 2020.

Prasetio mengatakan, dalam surat itu Anies mengklaim telah mengantongi rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya Pemerintah Provinsi DKI. Padahal dari pengakuan Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Mundardjito tak pernah memberikan rekomendasi tersebut.

"Kami tidak menghambat yang namanya kegiatan internasional Formula E. Tapi kami sebagai ketua dewan dari fraksi kami (PDIP), melihat ada manipulasi lagi, seakan-akan Pak Mundardjito mengiyakan padahal belum dikonfirmasi," ujar Prasetio saat ditemui di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (13/2).


Prasetio pun mempertanyakan isi surat balasan itu pada pihak Kemensetneg. Ia mengusulkan agar pelaksanaan Formula E sebaiknya tak dilaksanakan di kawasan Monas karena termasuk cagar budaya.

"Saya minta ke pak gubernur kalau memang mau dilaksanakan jangan ada di Monas, atau GBK. Kita kan punya tempat sendiri di Ancol, itu punya DKI. Kita perbaiki dan pariwisatanya kita juga dapat," katanya.
Menurut Prasetio, kawasan Ancol dapat digunakan untuk helat Formula E karena lokasinya luas dan terbuka. Selain itu akses penonton juga mudah jika ingin menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Pemasukan yang diperoleh pun diklaim Prasetio akan menguntungkan bagi pemprov DKI.

"Penonton masuk, bisa dapat uang dari tiket atau hotel. Makanya di sini saya konfirmasi karena saya juga baru sehat nih dari kecapekan mikirin masalah Jakarta," tuturnya.

Di sisi lain, Prasetio juga mengkritik minimnya promosi atas gelaran Formula E. Padahal ajang balap itu akan segera digelar pada 6 Juni mendatang. Ia meminta agar Anies mempertimbangkan kembali lokasi yang akan digunakan.

"Saya mohonlah pak gubernur, kalau mau balapan, silakan. Saya juga masih balapan loh hari ini. Tapi saya masih tahu aturan. Promosinya juga ini apa? Kalau saya sebagai atlet, kan promosinya dulu. Ini mana? Enggak ada," tuturnya.

Prasetio juga menyoroti rencana revitalisasi Monas yang dinilai menyalahi aturan. Ia menyinggung penebangan pohon yang dilakukan sembarangan. "Bauangan saya revitalisasi Monas bagian yang jelek akan diperbaiki, tapi kenyataannya kok seperti ini, dijadikan plaza. Setelah saya lihat gambar akan ada semacam dikasih karpet, dikasih aspal," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Prasetio pun berencana memanggil Anies untuk mengklarifikasi isi surat balasan tersebut. Ia menilai Anies sebenarnya tak terlalu memahami tentang pelaksanaan Formula E.

"Saya akan memanggil dan saya hari ini masih punya palu. Kalau dia (Anies) kan punya uang, saya punya palu. Kalau palu itu enggak saya ketok, enggak akan terjadi apa-apa. Saya akan seperti itu. Kalau dia keras, saya juga akan keras," ucap Prasetio.

"Ini saya mengimbau Pak Anies saja, saya di sini hanya mempertanyakan. Apa yang saya tanyakan dijawab, dia banyak juga yang enggak ngerti," imbuhnya.

Sebelumnya, Anies mengeluarkan surat balasan soal Formula E kepada Menteri Sekretaris Negara pada tanggal 11 Februari 2020. Surat itu menjelaskan perihal 'Tindak Lanjut Persetujuan Komisi Pengarah atas Penyelenggaraan Formula E tahun 2020 di Monas'.

Dalam surat itu, Anies mengklaim bahwa dirinya sudah mengantongi izin dari Tim Ahli Cagar Budaya DKI. Namun Ketua Tim Ahli mengaku tak pernah mengeluarkan rekomendasi itu.
(psp/ain)