Diketahui, hingga kini lokasi pelaksanaan Formula E belum jelas. Pemprov DKI Jakarta dan Kementerian Sekretariat Negara sejauh ini belum mengumumkan lokasi resmi balapan yang dilaksanakan pada 6 Juni 2020 itu.
"Itu bulan April harus sudah selesai infrastrukturnya karena akan ada uji coba ya. Jadi dua bulan sebelum event itu harus sudah ada uji coba," kata Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta Saefullah, di Jakarta, Selasa (11/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau ada hal-hal yang terganggu dalam rangka persiapan, kita minta pengertiannya sekaligus mohon maaf karena pasti dalam konstruksi ada hal-hal yang terganggu," tutur dia.
Soal lokasi gelarannya, kata Saefullah, sejauh ini Pemprov DKI lebih condong memilih kawasan Monas ketimbang di Gelora Bung Karno (GBK). Salah satu alasannya adalah panjang lintasan di GBK yang tidak cocok.
[Gambas:Video CNN]
"Ada batas maksimal rute 3,3 Km. Kalau sampai GBK kepanjangan, enggak mungkin, salah satu. Kalau [Monas] kan enggak mungkin dipakai semua juga. Masa mobil E Formula masuk [tugu] Monas, kan ada tangga-tangga ke dalam," ungkap dia.
Sebelumnya, Pengelola Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) mengaku siap menggelar Formula E. Namun, mereka memberi syarat agar tak menggunakan seluruh area dalam ring road Stadion GBK.
Terpisah, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diusung Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mendukung langkah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menggelar Formula E di kawasan Monas.
"Kalau ada keinginan Anies mencanangkan Formula E tentu punya tujuan yang baik, diantaranya menkampanyekan Jakarta sehat, bersih udaranya," klaimnya, di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/2).
Riza tak menampik Formula E akan makan dana besar dari APBD DKI Jakarta. Meski demikian, ia menyatakan gelaran itu memiliki dampak positif bagi roda perekonomian masyarakat.
"Katakanlah biayanya bisa sampai 300, tapi nanti perputaran [uang] setelah dihitung lebih Rp1,2 triliun. Jadi ada income masuk," kata dia.
(ctr/rzr/arh)