"Intinya, membicarakan aspek terutama yang berkaitan dengan nilai kultural harus hari-hati lah. Sering kali ini dirasakan sensitif dalam hal ini masyarakat Sunda," ujar Buky di Bandung, Jumat (14/2).
Politikus Partai Gerindra ini mengingatkan agar tokoh-tokoh nasional manapun untuk berbicara hati-hati dan secara bijak dalam menyampaikan pendapat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buky menyatakan apabila pernyataan Ridwan Saidi tersebut hanya dipaparkan di depan kamera, hal itu tidak akan berarti apa-apa. Namun dia mengingatkan agar pernyataan tersebut harus bisa dipertanggungjawabkan.
Lihat juga:Kisah Para Pemburu Harta Karun Sriwijaya |
"Saya kira yang pertama dia harus membuktikan datanya. Lalu ada dialog yang benar. Kalau dia salah, dia harus mengakui hal itu," ucap Buky.
Pernyataan budayawan Betawi Ridwan Saidi di sebuah channel YouTube menyebut Galuh artinya brutal hingga menyatakan di Ciamis tidak ada kerajaan menuai polemik.
[Gambas:Video CNN]
Pernyataan tersebut muncul dalam video berdurasi 12 menit 31 detik dengan judul 'GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA' yang diunggah 12 Februari 2020.
"Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu nggak ada kerajaan, karena indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi, Ciamis penghasilannya apa? Pelabuhannya kan di selatan bukan pelabuhan niaga, sama dengan pelabuhan kita di Teluk Bayur, bagaimana membiayai kerajaan," ujar Ridwan.
"Lalu diceritakanlah ada raja Sunda Galuh. Sunda Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena galuh artinya brutal, jadi saya yakin tidak ada peristiwa Diah Pitaloka, wanita dari Sunda Galuh itu dipanggul-panggul dibawa ke Hayam Wuruk untuk dikawinin. Itu yang dikatakan perang bubat, sedangkan bubat itu artinya lapang olahraga bukan nama tempat. Jadi di bubat yang mana dia perang. Juga di Indonesia tidak ada adat perempuan mau kawin dijunjung-junjung dianterin ke rumah lelaki itu kagak ada, itu tidak Indonesia," tuturnya.
Ucapan Saidi itu mendapat respons dari sejumlah tokoh hingga unsur masyarakat Ciamis. Dia diminta datang untuk melihat langsung berbagai bukti sejarah terkait kerajaan di Ciamis. (hyg/ain)