Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Heru Umbara mengatakan hujan mengganggu proses pengangkutan sisa tanah yang terkontaminasi zat radioaktif sehingga tidak bisa dilanjutkan.
"Hujan menyulitkan kita melakukan clean up, terutama pengambilan tanah, selain itu ada faktor keselamatan yang kita pertimbangkan karena banyak genangan air di lokasi," kata Heru, Senin (17/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pembersihan wilayah yang terkontaminasi zat radioaktif di Serpong, Tangerang Selatan. (CNN Indonesia/Thohirin) |
"Saya tidak ingat nanti biasanya akan kita masukkan dalam press release. Ya nanti mungkin besok, ada rilis," katanya.
"Jadi setiap kali pengukuran ada datanya. Jadi orang bekerja itu maksimal 80 microsievert. Setiap kali pekerja yang habis bekerja satu jam itu dapatnya 2-10 microsievert. Masih jauh banget di bawahnya," tambahnya.
Petugas menghentikan proses pembersihan wilayah yang terkontaminasi zat radioaktif di Serpong, Tangerang Selatan. (CNN Indonesia/Thohirin) |
"Prediksi kita 20 hari. Kalau toh bisa diselesaikan kurang 20 hari, alhamdulillah," ucapnya.
Bapeten telah memastikan paparan radiasi zat radioaktif yang ditemukan di Perumahan Batan Indah, Serpong, bukan disebabkan kebocoran fasilitas milik Batan.
Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan menduga zat radioaktif yang ditemukan di sepetak tanah kosong itu dibuang oleh seseorang. Pihaknya masih mendalami penyebabnya.
"Jadi, intinya, perlu ditegaskan bahwa ini bukan kebocoran bukan juga kejatuhan (satelit) atau fallout. Semata-mata ini ada yang meletakkan, menaruh, membuang, atau apa pun namanya. Kami akan investigasi lebih lanjut," kata Indra di Serpong, Sabtu (14/2).
[Gambas:Video CNN] (thr/pmg)

Petugas menghentikan proses pembersihan wilayah yang terkontaminasi zat radioaktif di Serpong, Tangerang Selatan. (CNN Indonesia/Thohirin)