Kasus Balita Tanpa Kepala, Anjing Lacak Jejak ke Arah Parit

CNN Indonesia | Rabu, 19/02/2020 09:34 WIB
Kasus Balita Tanpa Kepala, Anjing Lacak Jejak ke Arah Parit Ilustrasi anjing pelacak dari unit K9. (CNNIndonesia/Natalia Santi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian menurunkan anjing pelacak dari unit K9 Polda Kalimantan Timur di PAUD Jannatul Athfaal, Jalan A.W. Sjahranie Samarinda Ulu atau tempat penitipan balita yang meninggal tanpa kepala, Selasa (18/2).

Anjing jenis german shepherd bernama Tappy tersebut diturunkan guna memastikan kematian AYG setelah pada hari yang sama jenazah balita tersebut diautopsi. Anjing ini diterjunkan juga untuk mengungkap kemungkinan dugaan penculikan terhadap AYG.

Dilansir dari Antara, dengan dikawal oleh pelatihnya Briptu Kornelius, Tappy mulai bekerja dengan penjagaan Satreskrim Polresta Samarinda yang telah lebih dahulu mensterilkan area AYG terakhir dititipkan pada Jumat 22 November 2019 lalu.


Tappy dibiarkan mengendus barang bukti sepatu yang digunakan terakhir oleh korban sebelum hilang.

Setelah mengenal bau dari target yang harus dicarinya, Tappy kemudian perlahan berjalan mengendus menyusuri arah yang membawanya ke luar lingkungan PAUD.

Tanpa diarahkan, Tappy terus mengendus ke arah parit sejauh kurang lebih 500 meter hingga keluar Jalan A.W. Syahranie.

Guna memastikannya, polisi mengulang adegan ini hingga dua kali. Kegiatan ini disaksikan Bambang Sulistyo (ayah AYG), tim kuasa hukumnya, serta pihak yayasan PAUD.

"Hasilnya sama. Anjing terus mengendus ke arah parit dan menyusurinya," kata Kornelius.

Jika dugaan kematian AYG menguat pada indikasi penculikan, kata Kornelius, anjing terlatih milik kepolisian ini akan menjurus ke arah jalan umum.

Namun, pada kenyataannya, Tappy justru terus mengarah ke saluran air (drainase).

Kornelius meyakini pengendusan anjing peliharaannya memiliki tingkat keakuratan yang tinggi karena sudah terbukti dalam beberapa kasus.

"Selalu akurat ketika kami menangani kasus pencurian hingga orang hilang," katanya menegaskan.

Saat mengendus, Tappy tidak sama sekali menjurus ke arah ruangan PAUD, tetapi terus ke arah luar bangunan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sistem pelacakan yang dimiliki Tappy berdasarkan aktivitas terakhir dari orang yang dicarinya. Hal ini mengindikasikan kalau aktivitas terakhir AYG berada di luar PAUD.

"Anjing mencium berdasarkan tolok ukur barang bukti," kata Kornelius.

Sementara itu, Wakasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Muhammad Aldy Harjasatya mengatakan bahwa pelacakan ini dalam rangka memberi petunjuk untuk memastikan penyebab kematian balita malang tersebut.

"Sudah kita saksikan bersama, anjing selalu mengarah ke parit," kata Aldy menegaskan.

[Gambas:Video CNN]
Bongkar Makam dan Autopsi

Sementara itu Polresta Samarinda melakukan pembongkaran makam jenazah balita AYG di Pemakaman Umum (TPU), Jalan Damanhuri, Kecamatan Sungai Pinang, Selasa. Pembongkaran makam tersebut dilakukan untuk keperluan autopsi guna memastikan penyebab kematian AYG yang hingga saat ini masih simpang siur.

Selama kurang lebih dua jam, aparat kepolisian bersama dengan Tim Inafis Mabes Polri yang dipimpin Kombes dr Sumy Hastry bekerja melakukan proses autopsi pada jenazah balita yang ditemukan tewas tanpa kepala itu.

Setelah selesai, tim kepolisian kembali menggotong kantong mayat kuning berisikan jenazah AYG untuk kembali dikebumikan di liang lahatnya.

Kapolresta Samarinda Kombes Arief Budiman menuturkan rangkaian autopsi selama lebih kurang dua jam ini, berjalan lancar tanpa hambatan.

Dari autopsi lanjutan ini Tim Inafis membawa beberapa potong tulang sisa mendiang AYG untuk diteliti lebih lanjut. Salah satunya adalah tulang pangkal leher mendiang Yusuf.

"Sampel itu dibawa ke Mabes untuk ditindaklanjuti dan mencari kebenaran penyebab kematian," ujar Arief.

Arief belum bisa memastikan kapan hasil autopsi keluar. Yang jelas hasilnya akan diumumkan Mabes Polri.

"Secepatnyalah, kita tunggu. Nanti akan kami sampaikan kalau sudah keluar," katanya lagi. (Antara/osc)