Dalam hal ini, Mahfud menolak data yang diberikan oleh aktivis HAM Veronica Koman lantaran menganggap data kepolisian lebih lengkap.
"Jadi tak perlu dikontestasi mana yang lebih baik. (Data-data tersebut) seharusnya diuji melauli mekanisme yang berlaku, misalnya lewat Komnas HAM," kata aktivis HAM Haris Azhar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (19/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyayangkan sikap Mahfud. Menurut Haris, seharusnya data milik kepolisian dan Veronica Koman dikompilasi sehingga menjadi lebih utuh. Bisa saja data kepolisian berbeda dengan apa yang telah dikumpulkan oleh Veronica Koman.
"Pasti datanya kepolisian melihat ada pemberontakan di sana, ada separatis. Sementara Veronica berbicara soal ketegangan dari masyarakat sipil yang menjadi korban dari separatis," tambah dia.
[Gambas:Video CNN]
"Kalau sudah ada datanya, semestinya evaluasi pendekatan keamanan," tambahnya.
Sebelumnya, data mengenai Papua yang diserahkan ke Mahfud oleh mahasiswa UI menjadi perdebatan. Pasalnya, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut tak berniat memeriksa lebih lanjut dokumen itu.
"Enggak usah diperiksa. Kalau memang ada kan, sudah ada juga di kantor aparat yang berwajib. Itu infografis saja, kita punya daftar yang lebih lengkap, ada daftar riwayat hidupnya," ujar Mahfud di kantor presiden, Jakarta, Selasa (18/2).
Mahfud tak memusingkan kekecewaan BEM UI atas sikapnya tersebut. Ia berkukuh dokumen itu hanya berisi nama-nama tanpa penjelasan detail kasus yang menjerat. Sementara data itu sendiri disebut Mahfud juga telah dimiliki oleh kepolisian.
Hingga saat ini, belum ada respon langsung dari kepolisian terkait dengan klaim data Papua yang disebutkan lebih lengkap jika dibandingkan dengan dokumen tersebut.