Menurutnya, tidak ada pemberitahuan dari pembina Pramuka terkait kegiatan susur sungai di Sungai Sempor terhadap dirinya.
"Ya, memang sebelumnya tidak ada laporan bahwa kegiatan Pramuka akan ada susur sungai. Jadi jujur saya tidak mengetahui kemarin itu ada susur sungai," kata Tutik saat memberikan keterangan di SMPN 1 Turi, seperti dikutip Antara, Sabtu (22/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin karena anak-anak di sini sudah terbiasa, sehingga kegiatan susur sungai tidak dilaporkan," katanya.
Beberapa murid melakukan kegiatan susur sungai hanyut ketika arus deras di Sungai Sembor pada Jumat (21/2). (Dok. BNPB) |
Dia melanjutkan, sebanyak tujuh orang ditugaskan untuk mendampingi saat kegiatan susur sungai. Mereka merupakan guru-guru di SMPN 1 Turi.
Tutik pun meminta maaf atas peristiwa yang terjadi dan menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi di luar perkiraannya.
"Atas musibah kecelakaan ini kami atas nama sekolah mohon maaf, ini di luar prediksi," katanya.
Sementara itu, Badan SAR Nasional (Basarnas) Provinsi DIY menyatakan jumlah korban tewas akibat hanyut di Sungai Sempor menjadi sembilan orang. Humas Basarna DIY Pipit Eriyanto menyatakan bahwa dua korban masih dalam pencarian saat ini.
Sebelumnya Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi menilai tim pembina dalam peristiwa hanyutnya siswa SMP Negeri 1 Turi saat melakukan susur sungai, telah bertindak lalai.
Dia mengatakan semestinya dalam setiap kegiatan Pramuka dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah.
"Semua pasti ada sanksinya," tegas Putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X ini saat jumpa pers di SMP Negeri 1 Turi, Sabtu (22/2).
[Gambas:Video CNN] (mts/antara/pmg)
