BMKG Sebut Cuaca Ekstrem Jakarta Diprediksi Sejak 1900

CNN Indonesia | Selasa, 25/02/2020 16:36 WIB
BMKG Sebut Cuaca Ekstrem Jakarta Diprediksi Sejak 1900 Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena cuaca ekstrem berupa curah hujan tinggi yang terjadi belakangan ini di Indonesia sudah diprediksi sejak 1900 atau lebih 100 tahun lalu. 

Berdasarkan prediksi itu, terdapat pola cuaca ekstrem terjadi dalam siklus yang semakin pendek dan intensitas semakin tinggi. 

"Hal yang perlu dipahami, yaitu seluruh fenomena ini bukan kejadian yang kebetulan saja. Fenomena ini adalah fenomena yang terkait dengan data yang kami pantau selama sejak tahun 1900 bahkan 1860-an. Grafik kondisi perkembangan cuaca ekstrem sejak tahun 1900 sampai 2020," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (25/2).


Dia menuturkan berdasarkan data dan analisa yang dilakukan BMKG, cuaca ekstrem pertama kali tercatat pada 1918. Kemudian cuaca ekstrem selanjutnya didapati di tahun 1950. Ada selang 32 tahun setelah cuaca ekstrem yang pertama.

Selanjutnya, cuaca ekstrem kembali terjadi pada 1979. Namun tak selang 17 tahun kemudian, cuaca ekstrem kembali terjadi pada 1996. Selanjutnya terjadi lagi pada 2002 atau enam tahun kemudian. Menyusul cuaca ekstrem pada 2007, kemudian 2008. 


Cuaca ekstrem selanjutnya, dari data BMKG terjadi hanya berjarak lima tahun yakni pada 2013. Kemudian berjarak semakin pendek yakni cuaca ekstrem pada 2014 dan 2015. Dan yang teranyar terjadi pada tahun ini.

"Kesimpulannya apa? Kondisi ekstrem ini kejadian semakin sering dalam 30 tahun terakhir dan semakin pendek dalam 10 tahun terakhir," ujar Dwikorita.

Beriringan dengan jangka waktu yang kian pendek, intensitas curah hujan juga semakin tinggi. Mulai dari 125,2 mm per hari pada 1918, naik jadi 198 mm per hari pada 1979, menjadi 216,2 mm per hari pada 1996.

Intensitas curah hujan sempat turun pada 2002, dan kembali naik pada 2007 menjadi 203,7 mm per hari. Menyusul di cuaca ekstrem pada tahun-tahun berikutnya, intensitas curah hujan turun naik sampai mencapai titik tertinggi 277,5 mm per hari pada 2015.


Siklus cuaca ekstrem ini, kata Dwikorita, tidak lepas dari perubahan iklim global dan lokal yang disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari peningkatan gas emisi rumah kaca, kurangnya penghijauan sampai kegiatan industri tak ramah lingkungan.

Menurut data yang dicatat pada 1865 sampai 2010, Dwikorita mengatakan terjadi peningkatan suhu sampai 1,5 derajat celsius di seluruh wilayah Indonesia. Sedangkan sejak 2010 sampai 2019 kenaikan suhu tercatat hingga 1,13 derajat celsius, paling tinggi di Kepulauan Riau dan Banten.

"Penyebab utamanya dari hasil observasi dan analisa BMKG, ada korelasi signifikan dengan kandungan gas rumah kaca yang ada di wilayah Indonesia," jelas Dwikorita.

Ia menjelaskan rekor terbaru gas emisi rumah kaca di Indonesia mencapai 407,8 ppm. Angka ini relatif lebih rendah di bawah rata-rata peningkatan gas emisi dunia.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Dwikorita perkara ini perlu segera ditanggulangi oleh pemerintah. Ia pun mengaku sudah mengkoordinasikan ini kepada pemerintah daerah terkait melalui Rapat Koordinasi Khusus.

Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur sebagian besar wilayah Jakarta sejak Senin (24/2) malam hingga Selasa pagi. Akibatnya, dari data BPBD DKI Jakarta, sekitar 294 RW di Ibu Kota atau 10,34 persen  dari jumlah RW di Jakarta tergenang banjir.

BPBD DKI mencatat total pengungsi hingga Selasa siang mencapai 973 kepala keluarga dengan total 3.565 jiwa. Mereka berada di 40 titik pengungsian.

"Intensitas tertinggi terukur pada 25 Februari pukul 07.00 WIB di wilayah Kemayoran, 278 mm. Ini sudah melalui 150 mm, berarti merupakan intensitas hujan ekstrem," ujar Dwikorita. (fey/wis)