Saat Corona Bangunkan Sebaru Kecil dari Tidur

Yogi Anugrah, CNN Indonesia | Jumat, 28/02/2020 08:36 WIB
Saat Corona Bangunkan Sebaru Kecil dari Tidur Pulau Sebaru Kecil jadi tempat observasi WNI ABK World Dream. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Pulau Sebaru Kecil menyita perhatian publik akhir-akhir ini. Salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta ini dipilih jadi tempat observasi bagi 188 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Kapal World Dream terkait wabah virus corona.

Para WNI tersebut diobservasi menyusul wabah corona yang menginfeksi sejumlah penumpang kapal pesiar tersebut.

Pulau Sebaru Kecil, adalah sebuah pulau tak berpenghuni yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, secara administratif, Pulau ini berada di Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.


CNNIndonesia.com berkesempatan untuk melihat persiapan observasi di pulau seluas 16,60 hektare ini, Kamis (27/2), sehari sebelum WNI yang tengah dalam perjalanan sampai. 

Tak berpenghuni dan tidak ada aktivitas wisata, membuat akses menuju pulau ini cukup sulit. Tidak ada kapal reguler yang berangkat ke pulau ini. Kapal reguler yang berangkat hanya sampai ke Pulau Pantara, letaknya tidak jauh dari Pulau Sebaru Kecil. Opsi terbaik yang diambil adalah menyewa speedboat untuk langsung mengantar ke Pulau Sebaru Kecil.

Waktu menunjukkan pukul 07.20 WIB, saat tim berangkat dari Dermaga 16 Marina Ancol. Cuaca pagi itu mendung. Ombak laut pun tak henti-hentinya menggoyang speedboat yang kami naiki. 
Salah satu ruangan di gedung observasi di Pulau Sebaru Kecil. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah)


Setelah lebih dari 2 jam perjalanan, kami sampai di Pulau Sebaru Kecil. Hamparan pasir putih dan air laut yang jernih menyambut kedatangan kami. 

Sebaru Kecil mulai berbenah. Kapal-kapal yang membawa logistik ke pulau ini juga terus berdatangan. Selain kebutuhan pokok, barang-barang seperti wc portable, mesin cuci, serta kulkas juga terlihat dibawa.

Pemerintah sebelumnya menyebut bahwa fasilitas yang ada di Pulau ini lebih baik dari fasilitas yang ada di Pulau Natuna, tempat yang sebelumnya digunakan untuk mengobservasi WNI dari Wuhan beberapa waktu lalu.

"Persiapan seperti yang udah dilihat tadi di Pulau Sebaru ini lebih baik lah. Kalau sekarang ini tempat tidur ya kan, yang disekat-sekat. Jadi jauh lebih nyaman dibandingkan dengan Natuna," kata Direktur Pengelolaan Logistik dan Perencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Rustian, di Pulau Sebaru.

Kami mencoba berkeliling untuk melihat apa saja fasilitas yang ada di pulau ini. Sepanjang berkeliling, deretan pohon kelapa dan angin sepoi-sepoi terlihat di sepanjang pantai.

[Gambas:Video CNN]

Meski pulau ini kosong tak berpenghuni, kondisi bangunan yang ada terlihat terawat. Delapan bangunan di Pulau Sebaru Kecil yang akan dimanfaatkan dalam proses observasi 14 hari kedepan. 


Rinciannya, tiga bangunan digunakan sebagai tempat untuk WNI laki-laki, dan 1 bangunan untuk WNI perempuan. Di dalam bangunan tersebut dilengkapi beberapa ruangan yang disekat-sekat dengam kasur dan pendingin ruangan di dalamnya. 

Ada juga bangunan yang digunakan ruangan isolasi, satu bangunan untuk ruangan karantina, satu bangunan untuk ruangan ring satu, dan satu bangunan untuk posko kesehatan.

Di bagian pinggir pulau, saat ini juga tengah dibuat helipad dengan ukuran 18x18. Helipad ini dibuat untuk mempermudah akses transportasi ke pulau tersebut. 

"Dibuatnya sejak kemarin sore, besok siang mungkin akan selesai. Ini hanya di paving block," kata salah seorang pekerja yang saya temui.

Selain itu, di Pulau Sebaru juga akan dipasang tower Base Transceiver Station (BTS) dan Wi-Fi. Fasilitas itu dibangun untuk menguatkan jaringan komunikasi di Pulau Sebaru Kecil. Selama beberapa jam berada di pulau ini, sinyal seluler memang termasuk hal yang mewah.
Logistik didatangkan di Pulau Sebaru Kecil. (CNN Indonesia/Yogi Anugrah)

Sebelumnya, Pulau Sebaru Kecil merupakan bekas tempat rehabilitasi para pecandu narkotika. Dilansir dari beberapa pemberitaan, pada 2012, Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Yayasan Artha Graha Peduli mengembangkan sistem pelayanan rehabilitasi korban narkoba.

Salah seorang pekerja di resort Pulau Pantara yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan Pulau Pantara dan Pulau Serabu Kecil memang dikelola oleh Artha Graha Group.

"Dipakai untuk rehabilitasi pecandu narkotika sekitar tahun 2003-2007, dan berlanjut pada 2012, setelahnya pulau ini kosong," kata pekerja tersebut.
(sur)