MUI Minta Pemerintah Transparan Soal Investor Ibu Kota Baru

CNN Indonesia | Senin, 02/03/2020 03:44 WIB
MUI meminta pemerintah transparan soal 30 investor bagi pembangunan ibu kota baru karena mengkhawatirkan wilayah itu akan dikuasai cukong. Sekjen MUI Anwar Abbas khawatir ibu kota baru dikuasai pemodal. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah transparan soal rencana pemindahan ibu kota yang kabarnya telah didukung oleh 30 investor dari dalam dan luar negeri.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Anwar Abbas merespons kabar masuknya 30 investor yang sebagian di antaranya berasal dari luar negeri. Abbas meminta pemerintah, jika kabar itu benar, jangan sampai ibu kota baru nantinya dikuasai asing.

"Kalau yang terakhir ini yang terjadi tentu hal tersebut akan sangat-sangat kita sesalkan," kata dia, dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Minggu (1/3).


Abbas menyebut selama ini pemerintah tidak terbuka soal strategi pemindahan ibu kota. Padahal, katanya, pemindahan Ibu Kota adalah rencana besar yang seharusnya diketahui oleh rakyat.

"Untuk itu semestinya rakyat tahu secara baik alasan-alasan mengapa dipindahkan, kemana dipindahkan, tanah yang akan dibangun untuk ibu kota baru tersebut punya siapa? Apakah aman dari bencana alam seperti gempa bumi dan banjir?" Kata dia.

Abbas menyebut ada kemungkinan para investor tersebut juga akan menerima keuntungan. Ia khawatir para cukong itu justru bakal menguasai ibu kota baru nantinya.

"Karena selama ini yang kita tahu bila investor sudah mau berinvestasi maka tentu keuntungannya sudah terang benderang dan akan lebih banyak jatuh ke tangan mereka," katanya.

[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan sebelumnya menyebut 30 investor tertarik ikut membangun ibu kota baru. Mereka tak hanya berasal dari dalam, tapi juga luar negeri.

Investor itu rata-rata perusahaan besar. Mereka memiliki bisnis beragam, mulai dari listrik hingga kendaraan.

"Saya baru dikirim list-nya, sudah hampir 30 perusahaan besar yang ingin berpartisipasi. Mereka dari Amerika ingin masuk, Jepang masuk, Abu Dhabi (UEA) masuk, Singapura, banyak sekali," katanya seperti dikutip dari Antara, Rabu (26/2).

(thr/arh)