Sul, begitu ia akrab disapa. Mungkin tak banyak yang tahu sosok perempuan ini. Ia punya jasa besar terhadap dunia kesehatan Indonesia.
Selama masa perjuangan kemerdekaan, Sul aktif bergerak ke kantong-kantong gerilya daerah Tambun, Gresik, Demak, hingga Yogyakarta untuk mengusahakan obat-obatan dan makanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sul Muda menimba ilmu di Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Batavia pada 1942. Setelah tamat, ia bekerja di bagian penyakit dalam Centrale Burgelijke Ziekenhuis, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Lalu, ia melanjutkan kariernya di bagian penyakit anak RS Bethesda, Yogyakarta.
Ia memulai kariernya di Kementerian Kesehatan pada 1951 dan menjabat berbagai macam posisi. Periode 1967-1975, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M).
Kala itu, ia berhasil meyakinkan komisi internasional WHO bidang pemberantasan penyakit cacar bahwa Indonesia telah terbebas dari penyakit cacar yang tengah melanda dunia.
Pada 1975, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Dirjen P4M dan diangkat menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Jabatan itu ia emban sampai 1978. Setelah pensiun pada 31 Desember 1978, ia menjadi staf ahli Menteri Kesehatan.
[Gambas:Video CNN]
Selama 25 tahun pertama WHO, hanya ada dua perempuan dari Indonesia terpilih sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia, yaitu Rajkumari Amrit Kaur dari India dan Julie Sulianti Saroso.
Sul meninggal dunia pada 29 April 1991 dan namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso. Pada Senin (2/3) lalu, RSPI menjadi salah satu rumah sakit rujukan yang menangani Pasien terkait virus corona (Covid-19).
Hingga Kamis (5/3) pagi, ada 7 pasien yang sedang dalam pengawasan tengah diisolasi di RSPI. Selain itu, ada juga 2 orang yang positif corona dan tengah diisolasi di RSPI. (yoa/wis)