Sulianti Saroso, Dokter Pejuang yang Pernah Dibui Belanda

CNN Indonesia | Jumat, 06/03/2020 12:05 WIB
Sulianti Saroso, Dokter Pejuang yang Pernah Dibui Belanda Salah satu ruang di RSPI Sulianti Saroso. (CNBCIndonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Julie Sulianti Saroso lahir di Karangasem, Bali, 10 Mei 1917, atau 28 tahun sebelum Indonesia merdeka. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu rumah sakit di Jakarta yang menangani pasien terkait virus corona (Covid-19).

Sul, begitu ia akrab disapa. Mungkin tak banyak yang tahu sosok perempuan ini. Ia punya jasa besar terhadap dunia kesehatan Indonesia. 

Selama masa perjuangan kemerdekaan, Sul aktif bergerak ke kantong-kantong gerilya daerah Tambun, Gresik, Demak, hingga Yogyakarta untuk mengusahakan obat-obatan dan makanan.


Aktivitasnya itu membuat Sul sempat ditahan oleh Pemerintah Kolonial Belanda selama dua bulan di Yogyakarta.

Ia aktif di Organisasi Pemuda Putri Indonesia (PPI), bersama teman-temannya, ia juga membentuk Laskar Wanita yang diberi nama WAPP (Wanita Pembantu Perjuangan). Pada 1947, ditemani Utami Suryadarma dan Sukaptinah, ia menjadi delegasi Indonesia di Kongres Wanita di India.

Saat itu, ia menumpang pesawat terbang milik industrialis Patnaik yang pada masa itu menjadi blockade runner, menembus blokade yang dipasang oleh Belanda.

Sul Muda menimba ilmu di Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Batavia pada 1942. Setelah tamat, ia bekerja di bagian penyakit dalam Centrale Burgelijke Ziekenhuis, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Lalu, ia melanjutkan kariernya di bagian penyakit anak RS Bethesda, Yogyakarta.

Sul pernah mendapat beasiswa UNICEF untuk memperdalam pengetahuan di bidang Kesehatan Masyarakat dan Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) di Inggris, Skandinavia, Amerika Serikat, dan Malaysia. Ia mendapat ijazah Administrasi Kesehatan Rakyat dari Universitas London.

Ia memulai kariernya di Kementerian Kesehatan pada 1951 dan menjabat berbagai macam posisi. Periode 1967-1975, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M).

Kala itu, ia berhasil meyakinkan komisi internasional WHO bidang pemberantasan penyakit cacar bahwa Indonesia telah terbebas dari penyakit cacar yang tengah melanda dunia.

Pada 1975, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Dirjen P4M dan diangkat menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan. Jabatan itu ia emban sampai 1978. Setelah pensiun pada 31 Desember 1978, ia menjadi staf ahli Menteri Kesehatan.

Karena dedikasinya di dunia kesehatan, pada 1973, ia diangkat menjadi anggota badan eksekutif dan Ketua Health Assembly (Majelis Kesehatan).

[Gambas:Video CNN]

Selama 25 tahun pertama WHO, hanya ada dua perempuan dari Indonesia terpilih sebagai Presiden Majelis Kesehatan Dunia, yaitu Rajkumari Amrit Kaur dari India dan Julie Sulianti Saroso.

Sul meninggal dunia pada 29 April 1991 dan namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso. Pada Senin (2/3) lalu, RSPI menjadi salah satu rumah sakit rujukan yang menangani Pasien terkait virus corona (Covid-19).

Hingga Kamis (5/3) pagi, ada 7 pasien yang sedang dalam pengawasan tengah diisolasi di RSPI. Selain itu, ada juga 2 orang yang positif corona dan tengah diisolasi di RSPI. (yoa/wis)