SUARA ARUS BAWAH

Curhat Anak Kereta soal KRL Risiko Tinggi Penularan Corona

CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2020 13:35 WIB
KRL disebut jadi tempat berisiko penularan corona. Namun bagi para anak kereta, tak ada opsi pindah moda. Terlanjur nyaman dan antimacet jadi alasannya. Para penumpang KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut gerbong kereta rel listrik (KRL) berpotensi jadi tempat penyebaran virus corona (Covid-19) di ruang publik. Menurutnya, meski belum ada kasus penularan di kereta, namun hal ini perlu diwaspadai.

"Jadi yang disampaikan itu bukan bahwa saat ini ada kasus, bukan. Tapi bahwa saat ini kita punya potensi risiko-risiko, salah satunya adalah transportasi, tapi juga yang aspek-aspek lain," kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/3).

Anies menjawab hal tersebut merujuk foto yang memperlihatkan dirinya sedang berbicara di hadapan pimpinan dinas dan BUMD pada Rabu pagi. Pada foto itu Anies terlihat sedang berbicara, sementara di layar presentasi di belakang dirinya mengenai 'Waspada Risiko Covid-19 via Transportasi Publik'.
Pada layar presentasi itu terdapat tiga keterangan yang salah satunya tertulis risiko kontaminasi terbesar terjadi di wilayah KRL-2, atau Rute Bogor-Depok-Jakarta Kota.


Bagi para pengguna KRL, penyebaran virus corona jadi kekhawatiran sendiri. Namun mereka memiliki cara tersendiri agar tetap terhindar dari corona. Dari mulai selalu menggunakan masker hingga menyediakan cairan penyanitasi tangan atau hand sanitazer di tas. 

Salah satu pengguna rutin KRL rute Depok-Stasiun Manggarai, Intan Permata Dewi (22) mengaku selalu membawa masker di tasnya. Saat naik kereta, masker akan dipakainya. 

"Selalu ada masker di tas, ke mana-mana pakai masker, apalagi kalau naik KRL atau Transjakarta," katanya saat ditemui di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (12/3).

Intan yang sehari-hari menggunakan KRL untuk berangkat ke kampusnya di daerah Jakarta Pusat tersebut mengaku sangat bergantung dengan moda transportasi umum tersebut. Pasalnya tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk pulang-pergi Depok-Jakarta.

"Kalau dari Depok ke Jakarta ya udah paling bener pakai KRL, enggak macet, murah juga, pilihannya KRL aja sih," ujarnya.

Penumpang KRL Hadapi Risiko Corona: Berjuang SendiriIntan Permata Dewi (22), penumpang KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Penumpang lain KRL, Surnita (49) juga menyampaikan hal serupa, ia sudah menggunakan masker sejak berangkat dari rumah.

"Saya dari Pulo Gebang pakai KRL ke Jakarta, selalu persiapan masker dari rumah," kata Nita, sapaan akrabnya.

Nita mengaku tidak bergantung pada pelayanan stasiun dalam mencegah penyebaran virus corona. Pasalnya, perempuan dua anak tersebut menilai, thermalscanner dan hand sanitizer yang disiapkan pihak stasiun bukan upaya pencegahan yang efektif.

"Thermalscanner itu enggak tersedia di semua stasiun, di Pulo Gebang enggak ada. Tadi, keluar Manggarai juga saya enggak dicek pakai itu, hand sanitizer hanya terisi di loket masuk. Jadi, mending saya pencegahan sendiri aja enggak usah ngandelin orang lain," kata dia.

Nita seringkali menggunakan KRL untuk menemui keluarganya di daerah Jakarta Selatan. Ia memilih KRL karena harga yang terjangkau dan dekat dengan rumahnya.

Saat ditanya mengenai pilihan moda transportasi lain, ia enggan beralih. Nita lebih memilih menggunakan KRL.

"KRL aja, murah, cepat dan dekat dengan rumah saya di Pulo Gebang," katanya.

Penumpang KRL Hadapi Risiko Corona: Berjuang SendiriSurnita (49) penumpang KRL di Stasiun Manggarai. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Aji Samsudin (57) asal Bogor, juga memilih menggunakan KRL ketimbang moda transportasi lain. Meskipun telah mengetahui risiko penularan virus corona tergolong tinggi di dalam kereta, ia enggan beralih moda dari transportasi publik.

Ia beralasan menggunakan KRL banyak menghemat waktunya karena tidak terkena macet.

"Enggaklah, enggak akan [ganti kendaraan], pakai KRL saja, biar enggak kena macet," katanya saat menunggu kereta tujuan Bogor di Stasiun Manggarai.

Ia mengaku selalu menggunakan KRL sejak masih bekerja di wilayah daerah Cawang, Jakarta Timur. Aji juga tidak biasa menggunakan transportasi online karena keterbatasan alat elektronik.

"Ya persiapan sendiri saja pakai masker, kalau pakai transportasi lain kan susah, yang online saya enggak bisa pakainya," kata pria dengan rambut sudah beruban tersebut.

Penumpang KRL Hadapi Risiko Corona: Berjuang SendiriAji samsudin (57)  penumpang KRL di Stasiun Manggarai(CNN Indonesia/Melani Putri)

Mending saya pencegahan sendiri aja enggak usah ngandelin orang lain.Penumpang KRL, Surnita
Selain Aji, Ahmad Syaroni, warga Parung Panjang, Bogor, juga mengatakan tidak akan berpindah moda transportasi akibat isu virus corona.

Laki-laki berusia setengah abad tersebut, mengaku sudah terbiasa menggunakan KRL untuk pulang-pergi Tanah Abang-Bogor setiap harinya, terlebih, ia membawa barang dagangannya ke dalam kereta.

"Bawaan saya banyak gini kalau pakai bus susah, beli mobil bak terbuka enggak sanggup, ya sudah pakai KRL saja," katanya.

Saat ditemui di Stasiun Tanah Abang, Ahmad memang sedang membawa kereta dorong berisi pakaian anak-anak. Saban hari ia mengaku mencari nafkah sebagai pedagang di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ketika ditanya mengenai penyebaran virus corona yang lebih rentan di dalam kereta, Ahmad menjawab dengan santai. Ia juga mengaku tidak takut dengan virus tersebut.

"Enggak takut ya kalau saya, malah kalau enggak jualan lebih takut. Nanti enggak bisa makan, malah sakit," ujarnya sambil menunggu kereta tiba.

Penumpang KRL Hadapi Risiko Corona: Berjuang SendiriAhmad Syaroni (50)  penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Salah seorang pengguna KRL tujuan Depok, Evelin Lidya (22) yang juga sedang menunggu kereta di Stasiun Tanah Abang, juga enggan jika diminta untuk berpindah moda transportasi.

Ia lebih memilih mempersiapkan diri dengan masker dan penyanitasi genggam alias hand sanitizer yang sudah disiapkan di tasnya.

"Saya pulang pergi Depok-Jakarta pakai KRL terus, stasiun memang ada hand sanitizer tapi suka kosong. Makanya, saya selalu sedia," ujar mahasiswa jurusan ilmu hukum tersebut.

Evelin menyarankan kepada pihak pengelola stasiun untuk mempersiapkan hand sanitizer lebih banyak dan thermal scanner di setiap stasiun kereta.

"Saran sih, perbanyak hand sanitizer, thermalscanner juga tersedia di setiap stasiun, saya cuma dengar doang ada pemeriksaan suhu tubuh tapi di mana saya enggak tahu," katanya.

Penumpang KRL Hadapi Risiko Corona: Berjuang SendiriEvelin Lidya  penumpang KRL di Stasiun Tanah Abang. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Pantauan CNNIndonesia.com di Stasiun Tanah Abang pada Kamis (12/3) memang tidak melihat adanya pemeriksaan suhu tubuh. Hanya ada satu botol hand sanitizer ukuran 500 ml di loket tiket.

[Gambas:Video CNN]


PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sendiri mengklaim telah lebih dini melakukan antisipasi dan peningkatan pengawasan potensi penularan virus corona di dalam gerbong kereta. Salah satunya, dengan memberikan edukasi mengenai cuci tangan yang benar, hingga pembagian masker gratis di sedikitnya 36 stasiun.

Juru bicara KCI Anne Purba mengatakan tim kesehatan melakukan roadshow sosialisasi lanjutan ke sejumlah stasiun. Petugas juga akan melakukan random check suhu tubuh pengguna di stasiun-stasiun.

PT KCI, kata Anne semaksimal mungkin bakal mengerahkan seluruh sumber daya agar commuterline tetap steril dan bebas corona.

"Kami Menyediakan lebih dari 700 botol hand sanitizer untuk 88 rangkaian kereta dan 80 stasiun. dan Menugaskan on trip cleaning yang membersihkan rangkaian kereta saat sedang beroperasi melayani pengguna," kata Anne menambahkan.

Kepada para para pengguna KRL, PT KCI juga mengimbau untuk tidak meludah sembarangan di Stasiun maupun kereta, menggunakan masker saat sedang sakit, batuk, pilek, maupun dalam masa penyembuhan.


(mln/kid)