Wisma Atlet Disebut Kelabakan Jika Ada 8.000 Pasien Corona

CNN Indonesia | Selasa, 24/03/2020 12:39 WIB
Wisma Atlet Disebut Kelabakan Jika Ada 8.000 Pasien Corona Wisma Atlet yang pernah digunakan saat Asian Games 2018 akan jadi RS darurat penanganan Corona. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Staf khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menyatakan Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, yang menjadi rumah sakit darurat untuk menangani pandemi Virus Corona akan kelabakan bila harus menampung sekitar 8.000 pasien positif Covid-19.

Hal itu ia sampaikan berdasarkan prediksi dari para pakar di ITB yang menyatakan kasus virus corona di Indonesia bisa mencapai 8.000 kasus.

"Jadi tidak semua bisa diserbu ke rumah sakit Wisma Atlet semua, kalau melihat peak-nya yang dikatakan kawan-kawan ITB sampai 8.000 sampai sekian, itu kita kelabakan juga," kata Arya saat menggelar konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Selasa (24/3).


Dia pun menyatakan pemerintah akan melakukan distribusi pasien ke pelbagai rumah sakit berdasarkan derajat kondisi pasien.

Bagi pasien yang positif Corona namun masih sehat, kata Arya, pemerintah berharap mereka melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Sementara, pasien positif Covid-19 yang kondisinya parah akan dirujuk ke RS Wisma Atlet.

"Tapi yang memang parah sekali masuk RS Pertamina Jaya atau ke RS rujukan lainnya. Jadi ada tahapan-tahapan," kata dia.

Diketahui, pemerintah sendiri sudah menyiapkan RS Pertamina Jaya sebagai RS rujukan pasien positif corona.

[Gambas:Video CNN]
Selain itu, Arya menyatakan Menteri BUMN Erick Thohir sudah memerintahkan untuk menduplikasi RS Wisma Atlet sebagai RS darurat corona yang sudah diterpkan Jakarta ke beberapa daerah.

Ia menyatakan pihaknya diperintahkan mencari tempat yang memungkinkan untuk dijadikan RS Darurat untuk menampung banyam pasien positif virus corona.

"Di Semarang, Bandung, Surabaya, kami sudah disuruh mencari tempat yang bisa menampung banyak orang. kemungkinan asrama haji atau tempat-tempat di beberapa provinsi untuk pembuatan RS darurat," kata Arya.

Sebelumnya, tim peneliti pada Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB melakukan simulasi bertajuk 'Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika'.

Tim ini terdiri dari pakar dari ITB yakni Nuning Nuraini, Kamal Khairudin, dan Mochamad Apri.

Kesimpulannya, dikutip dari Antara, Indonesia akan mengalami puncak jumlah kasus harian COVID-19 pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020, dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600. Bahkan, jika tidak dicegah lebih lanjut, angka kasusnya bisa mencapai 8.000 pasien.

(rzr/arh)