Hal itu ia sampaikan berdasarkan prediksi dari para pakar di ITB yang menyatakan kasus virus corona di Indonesia bisa mencapai 8.000 kasus.
"Jadi tidak semua bisa diserbu ke rumah sakit Wisma Atlet semua, kalau melihat peak-nya yang dikatakan kawan-kawan ITB sampai 8.000 sampai sekian, itu kita kelabakan juga," kata Arya saat menggelar konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Selasa (24/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui, pemerintah sendiri sudah menyiapkan RS Pertamina Jaya sebagai RS rujukan pasien positif corona.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, Arya menyatakan Menteri BUMN Erick Thohir sudah memerintahkan untuk menduplikasi RS Wisma Atlet sebagai RS darurat corona yang sudah diterpkan Jakarta ke beberapa daerah.
Ia menyatakan pihaknya diperintahkan mencari tempat yang memungkinkan untuk dijadikan RS Darurat untuk menampung banyam pasien positif virus corona.
"Di Semarang, Bandung, Surabaya, kami sudah disuruh mencari tempat yang bisa menampung banyak orang. kemungkinan asrama haji atau tempat-tempat di beberapa provinsi untuk pembuatan RS darurat," kata Arya.
Tim ini terdiri dari pakar dari ITB yakni Nuning Nuraini, Kamal Khairudin, dan Mochamad Apri.
Kesimpulannya, dikutip dari Antara, Indonesia akan mengalami puncak jumlah kasus harian COVID-19 pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020, dengan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600. Bahkan, jika tidak dicegah lebih lanjut, angka kasusnya bisa mencapai 8.000 pasien.
(rzr/arh)