Erupsi Gunung Merapi, Letusan Kecil Diprediksi Masih Terjadi

CNN Indonesia | Minggu, 29/03/2020 12:46 WIB
Erupsi Gunung Merapi, Letusan Kecil Diprediksi Masih Terjadi Ilustrasi: Letusan Gunung Merapi pada 3 Maret 2020. (Foto: ANTARA FOTO/Rizky Tulus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Badan Geologi menyatakan letusan berfrekuensi rendah diperkirakan dapat terus terjadi setelah Gunung Merapi mengalami Erupsi. Kepala BPPTKG Hanik Humaidi mengatakan fenomena seismisitas ini merupakan indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung.

Ancaman bahaya letusan tersebut, lanjur Hanik, bisa berupa awan panas dan lontaran material vulkanik dengan jangkauan kurang dari tiga kilometer--berdasarkan volume kubah sebesar 291.000 meter kubik bertolak pada data drone 19 Februari 2020.

"Setelah erupsi Jumat (27/3) malam pukul 22.46 WIB, seismisitas didominasi gempa berfrekuensi rendah yaitu sebanyak 24 kali, hembusan 11 kali, guguran 2 kali, dan multiphase 2 kali. Deformasi juga tidak menunjukkan perubahan yang signifikan," terang Hanik seperti dikutip dari Antara, Minggu (29/3).


"Data observasi ini menunjukkan bahwa menjelang letusan adanya fluida yang bergerak ke permukaan, tetapi tekanan tidak cukup kuat karena material letusan didominasi oleh gas vulkanik," lanjut dia.


Sebelumnya Gunung Merapi di Perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali erupsi pada Minggu (29/3) dini hari dengan tinggi kolom mencapai 1.500 meter di atas puncak.

Sementara laporan kronologi BPPTKG Badan Geologi menunjukkan letusan juga terjadi pada 27 Maret 2020 pukul 21.46 WIB dan 28 Maret 2020 pukul 05.21 WIB. Letusan masing-masing menghasilkan tinggi kolom 1.000 meter dan 2.000 meter.

Seismograf merekam letusan dengan amplitudo masing-masing 40 mm dan 50 mm dengan durasi 180 detik. Tidak teramati adanya awan panas dari kedua letusan tersebut.

"Hasil pemantauan kami, tidak teramati adanya awan panas dari kedua letusan ini, VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) diterbitkan dengan kode warna Orange. Angin saat kejadian letusan mengarah ke barat," ungkap Hanik.


Sementara itu, imbuh Hanik, hujan abu tipis dilaporkan terjadi dalam radius 5 km dari puncak Gunung Merapi terutama pada sektor Barat menjangkau wilayah Kecamatan Krinjing, Kabupaten Magelang.

Pelbagai aktivitas vulkanik itu terjadi setelah kejadian pada 27 Maret 2020 pukul 10.46 WIB.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY mencatat sejak erupsi 27 Maret 2020 malam, sudah ada lima kali erupasi. Terakhir adalah yang terjadi Minggu (29/3) dini hari tadi. Karena itu status gunung ini diyantakan tetap waspada.

"Masyarakat dimohon tetap tenang. BPBDSleman perlu antisipasi kesiapan masker. Semoga kalau erupsi masih dengan karakter seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Tetap mandali," kata Kepala BPBD DIY, Biwara Yuswantara kepada CNNIndonesia.com melalui pesan pendek.

Gunung Merapi telah berstatus waspada sejak 21 Mei 2018. Imbauan serupa diutarakan Hanik. Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi.

Warga sekitar diharapkan tetap mengikuti arahan pemerintah setempat atau bisa mengikuti perkembangan informasi gunung tersebut melalui aplikasi MAGMA, menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz, melalui laman resmi media sosial bpptkg (twitter : @BPPTKG , instagram : @bpptkg).

[Gambas:Video CNN]

(Antara/NMA)