Meski Ajukan PSBB, Tegal Masih Berlakukan Isolasi Wilayah

CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2020 07:02 WIB
Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi menegaskan masih ada 45 ruas jalan yang ditutup, sehingga isolasi wilayah masih berlaku. Jalan di Kota Tegal masih ditutup meski Pemkot mengajukan PSBB ke pemerintah pusat (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kota Tegal, Jawa Tengah telah mengajukan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada pemerintah pusat guna menanggulangi virus corona (Covid-19). Pemerintah pusat belum memutuskan pengajuan dari Pemkot Tegal.

"Iya sudah diajukan," tutur Wakil Wali Kota Tegal Muhammad Jumadi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (4/4).

Meski sudah mengajukan PSBB, Pemkot Tegal masih belum mau mencabut kebijakan isolasi wilayah yang direncanakan berlaku 30 Maret-30 April. Sejumlah jalan masih ditutup.


"Enggak (cabut isolasi wilayah). Masih ada 45 titik yang kita beton," kata Jumadi.

Sebenarnya, Pemkot Tegal sudah mulai membuka sejumlah ruas jalan masuk dari daerah lain. Mulanya hanya satu, tetapi kini ada 5 jalan yang dibuka sejak Kamis (2/4), yaitu Jalan Proklamasi, Jalan Sultan Agung, Jalan Teuku Umar perbatasan Kabupaten Tegal, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Jenderal Soedirman.

Meski demikian, Jumadi menegaskan pembukaan jalan itu bukan berarti Pemkot Tegal mencabut isolasi wilayah. Itu tetap akan berlaku hingga pemerintah pusat memutuskan soal PSBB yang telah diajukan Pemkot Tegal.

[Gambas:Video CNN]

Jumadi menjelaskan bahwa Pemkot Tegal sengaja membuka 5 jalan masuk dari daerah lain usai melakukan evaluasi. Pemeriksaan suhu dan kondisi kesehatan pendatang pun dilakukan dengan ketat.

"Banyak warga yang mudik masuk ke Kota Tegal," kata Jumadi.

"Sehingga daripada ada kemacetan malah menyebabkan orang berkerumun malah tidak sesuai untuk menjaga physical distancing, maka lebih baik kita buka aksesnya dengan dibuat posko pengecekan suhu dan penyemprotan disinfektan untuk orang dan kendaraannya.

Pemkot Tegal juga terus memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya corona. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan memberikan sosialisasi menggunakan paralayang.

"Paralayang ini inovasi pertama dalam mengedukasi masyarakat dengan brosur dan flyer karena kita tidak boleh ketemu langsung, harus social dan physical distancing, makanya kita dari langit," kata Jumadi.


--

Catatan redaksi: Judul berita diubah pada Minggu (5/4) pukul 16.30 WIB untuk mengoreksi istilah "local lockdown" menjadi isolasi wilayah. (bmw/bmw)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK