OBITUARI

Arief Budiman Si Pencetus Golput

CNN Indonesia | Kamis, 23/04/2020 16:03 WIB
Cropped shot of a man placing a white rose on a grave Ilustrasi meninggal. (Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arief Budiman mangkat di usia 79 tahun. Lahir di masa pra kemerdekaan Indonesia, pada 3 Januari 1941 di Salatiga, Jawa Tengah.

Nama aslinya adalah Soe Hok Djin. Arief adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, aktivis angkatan 1966 di masa peralihan Presiden Sukarno ke Soeharto.

Bersama adiknya, nama Arief kondang di dunia aktivis saat menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Setelahnya, karier Arief lebih banyak bidang budaya, selain mengajar di sejumlah universitas, baik di dalam maupun di luar negeri, Australia.


Arief sempat mengenyam pendidikan jenjang perguruan tinggi di College d'Europe, Brugge, Belgia pada tahun 1964, sebelum lulus di Fakultas Psikologi UI pada 1968.

Empat tahun kemudian, pada 1972, ia melanjutkan kuliahnya di Paris, hingga akhirnya meraih Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, pada tahun 1980.

Sebagai budayawan, Arief kian dikenal ketika menempati posisi redaktur majalah Horison selama kurang lebih enam tahun (1966-1972).

Di saat bersamaan Arief menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta selama tiga tahun (1968-1971). Dia juga pernah merasakan kursi penasihat majalah Horison itu sejak 1972 hingga 1992.

Namun demikian, Arief juga disebut-sebut terlibat dalam perang kebudayaan antara Manifes Kebudayaan (Manikebu) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Saat menjadi mahasiswa ia ikut menandatangani Manifes Kebudayaan pada 1963 melawan Lekra.

Karena itu juga, nama Arief diklaim sebagai tokoh aktivis yang melahirkan rezim Orde Baru. Meski begitu, ia tetap bisa bersikap kritis terhadap rezim yang dilahirkannya tersebut.

Salah satu aksi Arief yang kritis terhadap Orde Baru adalah berdemonstrasi menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang disebut dibangun Soeharto untuk sang istri, Siti Hartinah (Tien Soeharto). Karena aksinya tersebut Arief ditahan pada 1972.

Pada pemilu 1973, Arief dan kawan-kawan mencetuskan istilah Golput atau Golongan Putih, sebagai tandingan Golkar (Golongan Karya) yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis.

Sekembalinya dari Harvard University pada 1985, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga hingga 1995.

Karier Arief di UKSW berakhir dengan pemecatan karena mogok mengajar sebagai buntut penolakan pemilihan rektor yang dianggap tak adil. Ia lalu hengkang ke Australia, serta menerima tawaran menjadi profesor di Universitas Melbourne.

Arief menikah dengan Laila Chairani (Budiman). Arief dan Laila dikaruniai dua orang anak, Adrian Budiman dan Susanti Kusumasari.

Andreas Harsono, rekan Arief sejak masih mahasiswa menyebut sohibnya itu sebagai 'anak Jakarta' tulen meski lahir di Jawa Tengah.

"Arief anak Jakarta tulen, dibesarkan di keluarga Tionghoa yang hanya berbahasa Indonesia (ayahnya dahulu seorang sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa), dan tentu punya adat bertutur yang berbeda," tulis Andreas dalam laman blognya, 23 Mei 2018. (thr/ugo)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK