Nama aslinya adalah Soe Hok Djin. Arief adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, aktivis angkatan 1966 di masa peralihan Presiden Sukarno ke Soeharto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Empat tahun kemudian, pada 1972, ia melanjutkan kuliahnya di Paris, hingga akhirnya meraih Ph.D. dalam bidang sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, pada tahun 1980.
Di saat bersamaan Arief menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta selama tiga tahun (1968-1971). Dia juga pernah merasakan kursi penasihat majalah Horison itu sejak 1972 hingga 1992.
Karena itu juga, nama Arief diklaim sebagai tokoh aktivis yang melahirkan rezim Orde Baru. Meski begitu, ia tetap bisa bersikap kritis terhadap rezim yang dilahirkannya tersebut.
Salah satu aksi Arief yang kritis terhadap Orde Baru adalah berdemonstrasi menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang disebut dibangun Soeharto untuk sang istri, Siti Hartinah (Tien Soeharto). Karena aksinya tersebut Arief ditahan pada 1972.
Pada pemilu 1973, Arief dan kawan-kawan mencetuskan istilah Golput atau Golongan Putih, sebagai tandingan Golkar (Golongan Karya) yang dianggap membelokkan cita-cita awal Orde Baru untuk menciptakan pemerintahan yang demokratis.
Sekembalinya dari Harvard University pada 1985, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga hingga 1995.
Karier Arief di UKSW berakhir dengan pemecatan karena mogok mengajar sebagai buntut penolakan pemilihan rektor yang dianggap tak adil. Ia lalu hengkang ke Australia, serta menerima tawaran menjadi profesor di Universitas Melbourne.
Andreas Harsono, rekan Arief sejak masih mahasiswa menyebut sohibnya itu sebagai 'anak Jakarta' tulen meski lahir di Jawa Tengah.
"Arief anak Jakarta tulen, dibesarkan di keluarga Tionghoa yang hanya berbahasa Indonesia (ayahnya dahulu seorang sastrawan yang menulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa), dan tentu punya adat bertutur yang berbeda," tulis Andreas dalam laman blognya, 23 Mei 2018. (thr/ugo)