Kisah Pemudik Terlunta-lunta di Merak, Tidur di Emperan Toko

CNN Indonesia | Jumat, 01/05/2020 10:11 WIB
Cilegon (01/05) Sirli (36) terlunta-lunta di emperan toko sekitar Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, karena terkena kebijakan pemerintah yang melarang mudik. Dia tidak bisa menyebrang menuju Bakauheni, Lampung, selama dua hari. Seorang warga terlunta-lunta selama dua hari di emperan toko di Pelabuhan Merak karena terkena imbas larangan mudik sehingga tak bisa menyeberang ke Bakauheni. (CNN Indonesia/Yandhi)
Cilegon, CNN Indonesia -- Sudah dua hari Sirli terlunta-lunta di emperan toko sekitar Pelabuhan Merak, Banten. Niatnya pulang ke kampung halaman pupus imbas larangan mudik.

Dia mengaku berangkat dari Bandung pada Senin (27/4) malam lalu dan sampai di Merak sehari setelahnya. Namun, dia tidak bisa menyeberang ke Bakauheni karena larangan mudik yang diterapkan oleh pemerintah.

"Saya sudah dua hari di sini. Perjalanan malam Selasa dari Bandung. Kalau pelarangan (mudik) di Merak saya belum tahu. Kalau PSBB saya udah tahu," kata Sirli saat ditemui di depan Pelabuhan Merak, Jumat (1/5).
Selama di pelabuhan, Sirli tidur berpindah-pindah, mencari halaman toko yang tutup. Saat pagi menjelang, Sirli diusir penjaga atau pemilik gerai karena toko harus dibuka.


Sirli sendiri bekerja sebagai front liner di Lion Air. Namun, ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bermodal Rp500 ribu di dompet, dia nekat pulang kampung ke Krui, Lampung Barat. Kini uangnya kian menipis.

"Sekarang tersisa Rp100 ribu. Itu pun minta bantuan ke keluarga untuk ditransfer," katanya.
Sirli berharap pemerintah memberikan kelonggaran bagi dia untuk menyeberang ke Bakauheni dan berkumpul dengan keluarganya. Menurutnya, istri dan anaknya sudah lebih dulu pulang kampung pada pekan lalu.

"Anak istri saya udah saya suruh pulang duluan. Saya memaksakan pulang kampung karena bertahan hidup di Bandung sendiri sudah sulit. Apapun risikonya, saya harus pulang kampung. Saya mohon ke pemerintah," katanya. (ynd/has)