"Surabaya naiknya tinggi, upayanya harus jauh lebih tinggi dari Gresik dan Sidoarjo, jadi mohon maaf ini kajian dari sisi ilmiah, enggak ada kaitannya dengan sisi politis, di ilmiah demikian," kata Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, Joni Wahyuhadi, di Surabaya, Kamis (7/5).
Dalam catatan Joni, sebelum PSBB terhitung dari 20 - 27 April, jumlah kasus di Surabaya tercatat sebanyak 74 kasus. Sedangkan saat pelaksanaan PSBB dari tanggal 28 - 7 Mei, Surabaya mengalami penambahan sebanyak 218 kasus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu di Sidoarjo, sebelum PSBB 20 - 27 April tercatat ada penambahan sebanyak 24 kasus. Sementara saat pelaksanaannya 28 April - 7 Mei, terjadi penambahan sebanyak 72 kaus.
"Kematian memang ekstrem, di Surabaya naiknya paling tinggi, diikuti Sidoarjo dan Gresik, kematian sama-sama naik," kata Joni, yang juga Direktur RSUD dr Soetomo, Surabaya ini.
Tak hanya itu, kata Joni, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Surabaya juga terus mengalami kenaikan. Kini tercatat ada 1.461 orang, sedangkan dua daerah lainnya yakni Sidoarjo sebanyak 214 PDP dan Gresik dengan 158 PDP.
"Kasus PDP, yang dirawat untuk Gresik dan Sidoarjo sudah mulai landai atau bahkan menurun, kalau trennya menggembirakan. Cuma kalau Surabaya trennya masih naik," kata dia
Sementara untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Surabaya tercatat ada 2.881 orang. Sementara Sidoarjo 832 dan Gresik 1.335 orang. Joni mengatakan jumlah ODP di Gresik dan Sidoarjo tersebut cenderung menurun.
"Saya kira perlu gerak yang lebih ketat dan lebih agresif di Surabaya. Untuk Gresik dan Sidoarjo cenderung turun berarti kegiatan pemantauannya bagus, sehingga menghasilkan ODP yang turun," ujarnya.
"Jenengan (kamu) lihat sendiri di Surabaya, enggak usah saya cerita, monggo dilihat sendiri. Jadi kalau mengharapkan langsung begini (kurva turun) ya, rasanya situasi kayak gini, yang kita lihat sehari-hari gini nggak mungkin," kata dia. (frd/bmw)