Tanpa PSBB, Bali Andalkan Desa Adat Atasi Corona

CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2020 19:14 WIB
Pemuka agama Hindu melakukan persembahyangan dalam upacara untuk keharmonisan alam terkait wabah COVID-19 di Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Denpasar, Bali, Kamis (2/4/2020). Upacara tersebut digelar serentak di masing-masing desa adat di seluruh Bali dengan hanya melibatkan pemuka agama Hindu dan pemuka desa adat untuk memohon hilangnya wabah COVID-19 dan kembalinya keharmonisan alam. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/foc. Desa adat jadi andalan Bali atasi virus corona. (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan pihaknya menekan pandemi virus corona dengan mengandalkan desa adat tanpa menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut I Wayan Koster, desa adat termasuk ke dalam tiga level penanganan sebagai upaya Bali mengatasi wabah Covid-19 ini. Sedangkan dua lainnya ada di tingkat provinsi dan kabupaten atau kota.

"Kami tidak melaksanakan PSBB, sejak kasus muncul 10 Maret kami langsung buat pola penanganan dalam bentuk kebijakan operasional di lapangan, ada tiga level pelaksanaan penanganan Covid-19 di Bali," ujar Koster dalam jumpa pers, Selasa (12/5).


Di level provinsi, kata Koster, berupa penerbitan surat edaran imbauan dan instruksi terkait penerapan protokol kesehatan. Kemudian di kabupaten atau kota berupa manajemen untuk mengkoordinasi pelaksanaan operasional corona. Sementara di level paling bawah, lanjut Koster, berupa kebijakan di wilayah desa adat.

"Desa adat ini kami jadikan andalan utama untuk mengendalikan pergerakan masyarakat di wilayah masing-masing agar tidak keluar atau tidak kedatangan orang luar masuk ke wilayahnya, kecuali ada kepentingan mendesak," katanya Koster.

Koster menuturkan, desa adat memiliki kearifan lokal dengan hukum adat yang dinilai bisa mengikat lebih kuat masyarakat di wilayah tersebut. Di Bali sendiri tercatat 1.493 desa adat.

Menurut Koster, desa adat juga memiliki ritual keagamaan dalam bentuk niskala berupa keyakinan masyarakat Bali untuk mengikuti pedoman dari para leluhur ketika ada suatu wabah terjadi.

"Karena desa adat punya hukum adat, warga jadi tertib dan disiplin, sejauh ini berjalan dengan sangat baik. Selain itu kelebihan desa adat juga punya satu keyakinan ritual agama dalam bentuk niskala. Para leluhur mengajarkan kalau ada wabah ada cara sendiri penanganan secara ritual," ucap Koster.

Di sisi lain, Bali juga menyediakan 13 RS rujukan dengan kapasitas 392 tempat tidur bagi pasien corona. Koster mengatakan, hingga saat ini ada 314 pasien positif corona di Bali. Dari jumlah tersebut, 210 orang sembuh dan hanya empat orang meninggal dunia.

Saat ini pihaknya memprioritaskan penanganan corona di tiga kabupaten di Bali yakni Bangli, Buleleng, Karangasem, dan Kota Denpasar. Koster mengklaim kabupaten lainnya relatif aman sehingga ia mulai mengkaji kemungkinan membuka akses terbatas di kabupaten lain.

"Jadi indikator yang kami lakukan adalah menahan penambahan laju pasien positif, meningkatkan persentase kesembuhan, dan menahan angka yang meninggal. Secara kumulatif jumlah pasien di RS akan terus menurun," jelasnya.

PSBB Sumbar Tekan Corona

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyatakan penerapan PSBB dan pengujian masif berhasil menekan laju penyebaran virus corona.

Irwan mengklaim tidak ada penambahan kasus baru hingga 11 Mei 2020. Sejauh ini tercatat total 299 kasus positif di wilayah tersebut.

"Dari 299 yang positif itu sejak 22 April mulai pertama PSBB di Sumbar, tidak ada lagi kasus impor. Jadi tidak ada lagi yang datang dari luar Sumbar," ujar Irwan dalam jumpa pers.

Irwan mengatakan, ketiadaan kasus impor atau pendatang ini juga didukung kebijakan larangan mudik dari pemerintah. Menurutnya, penambahan kasus di Sumbar hanya berasal dari transmisi lokal klaster corona yang sudah ada sebelum penerapan PSBB.

Sementara untuk pengujian masif, Irwan menuturkan sudah lebih 9 ribu spesimen yang diperiksa sejak 23 Maret. Dalam satu hari pemeriksaan diklaim mencapai 758 spesimen.

"Jadi kekuatan testing ini sudah ada di Sumbar, dan memang saat ini kami masih menunggu mesin ekstraksi yang insyaAllah dari BNPB akan bantu. Itu bisa sampai 1.500 nanti, dan kami bisa membantu provinsi tetangga untuk melakukan testing," ucap Irwan. (pris/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK