Anies mengklaim selama pelaksanaan PSBB, tahap pertama dari 10 April hingga tahap kedua yang berakhir pada 22 Mei, penyebaran virus corona di Ibu Kota mulai menurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data yang dikemukakan Anies merupakan hasil kajian Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang diestimasi metode Bayesian. Dari hasil kajian, jumlah reproduction number di Jakarta per harinya sejak 14 Maret hingga 17 Mei menurun.
"Kalau di bawah satu artinya tidak lagi menularkan. Kalau satu artinya, satu orang menularkan kepada satu orang," ujarnya.
Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu mengatakan perlu kerja sama masyarakat dalam menurunkan angka reproduction number selama PSBB. Salah satunya dengan tetap berada di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Berdasarkan data FKM UI, sejak pertengahan Maret jumlah warga Jakarta yang berada di rumah sudah mencapai 60 persen. Angka itu melonjak signifikan, dari 40 persen ke 60 persen ketika ada imbauan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah.
"Di antara seluruh provinsi di Jawa, lompatan di Jakarta paling tinggi. Artinya apa? Artinya ada keseriusan warga di Jakarta untuk menangkis penularan dengan cara berada di rumah," katanya.
Kendati begitu, Anies menyebut, sejak hari pertama bulan Ramadan yang jatuh pada tanggal 24 April, jumlah warga yang keluar rumah kembali tinggi. Jumlah laporan kasus positif virus corona per hari pun mengalami peningkatan kembali pada bulan Mei.
"Sore hari, malam hari tetap berada di rumah. Ini tujuan kita adalah membawa jumlah kasus positif per hari itu turun. Ini laporan kasusnya harus turun. Sekarang laporan kasusnya itu naik," kata dia.
Sementara hingga Selasa (19/5) kasus positif virus corona di DKI pada tercatat 6.053 kasus. Dari jumlah itu 1.417 pasien dinyatakan sembuh dan 487 orang lainnya meninggal dunia. (dmi/fra)