Nada Lirih Lebaran Para Korban PHK Imbas Corona

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 06:58 WIB
Suasana di Taman Marga Satwa Ragunan saat hari kedua Idulfitri 1441 Hijriah, Jakarta, Senin, 25 Mei 2020. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Suasana di Taman Marga Satwa Ragunan saat hari kedua Idulfitri 1441 Hijriah, Jakarta, Senin, 25 Mei 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah corona dan hal-hal yang diakibatkannya membuat suasana lebaran tahun ini terasa berbeda bagi banyak orang. Hal serupa dirasakan dengan Andi Akbar di Bekasi.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) awal April lalu sontak membuatnya pontang-panting memasukkan surat lamaran. Berawal dari pemotongan gaji kemudian berujung pada unpaid leave.
"Rasanya tiba-tiba enggak fokus, hari itu keputusan PHK, terus hari itu langsung apply ke tempat lain," kata Andi pada CNNIndonesia.com, Senin (25/5).

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang, dia cukup memaklumi kondisi perusahaan apalagi perusahaan tempatnya bekerja bergerak di industri fesyen. Andi berpendapat, ada atau tidak ada pandemi, sandang bukan kebutuhan utama. Ditambah pandemi, uang lebih dicari untuk kebutuhan perut.


Bisnis busana muslim dengan label 'Eloise Montcava' pun terkena dampak. Mau tak mau ia hanya bisa mengandalkan tabungan untuk 2-3 bulan mendatang. Dia optimistis bisa memperoleh pekerjaan lagi di industri fashion sebelum tabungannya kandas.

"Kalau kondisi sudah lebih baik, mungkin bisa balik lagi ke kantor lama," kata dia.
Berbeda dengan Andi, Mahesa Dwiputra masih belum bisa berdamai dengan keputusan perusahaan dan kondisinya saat ini. PHK membawa dampak begitu besar buat ia dan keluarga. Lebaran akibat pandemi sudah terasa hampa ditambah PHK di awal April lalu.

Meski baru tujuh bulan menjadi staf marketing and communication di sebuah perusahaan swasta, Mahesa sudah nyaman dengan pekerjaan, ritme kerja juga suasananya.

"Tiba-tiba, kalau kata anak-anak, shit happens. Hari pertama masih santai, tapi lama-lama sakit juga. Cuma mau sampai kapan. Marah, kecewa, nangis, misalkan dibiarin malah jadi penyakit," katanya lirih.

Di sisi lain, dirinya merasa beruntung karena sang istri tidak bernasib sama meski THR dicicil dan gaji dipotong sekian persen. Selang beberapa waktu, ia pun memperoleh pekerjaan baru. Kondisinya 180 derajat berbeda dengan perusahaan lama. Pekerjaan ini pun membuat Mahesa harus tinggal di Banten, berjauhan dengan sang istri dan anak mereka di Depok.

Tak hanya itu, dari segi gaji pun terbilang jauh menurun. Namun mau bagaimana lagi. Dapur harus tetap mengebul dan anak harus tetap dibelikan susu.

"Saya bilang 'Kita harus ambil peluang di depan' meski harus berkorban dari sisi jumlah," katanya.

Menjalani long distance marriage membuatnya hanya bisa bertemu anak dan istri seminggu atau dua minggu sekali. Lambat laun, ada hal positif yang bisa ia ambil. Komunikasi dengan sang istri lebih banyak dan makin menghargai waktu bersama anak.

"Ini bener-bener new normal. Orang beradaptasi perlu waktu dan itu beda-beda tiap orang. Tapi ini harus nerima saat itu juga, harus terima, harus terbiasa," pungkasnya.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menyebut perayaan Idulfitri tahun ini dirayakan dengan cara yang berbeda karena adanya pandemi Covid-19. Jokowi mengimbau seluruh pihak untuk berkorban dengan cara tidak mudik dan tidak bersilaturahmi seperti biasanya.

"Dituntut pengorbanan dari semua pihak untuk tidak mudik dan tidak bersilaturahmi dengan cara yang biasanya," ujar Jokowi.

Meski demikian, Jokowi optimistis masyarakat Indonesia dapat melewati pandemi ini secara bersama-sama.

"Saya yakin, bersama-sama kita bangsa Indonesia akan mampu melewati ujian berat ini," tandasnya.
(ain/ain)

[Gambas:Video CNN]