Pengamat: Buka Sekolah Jangan Korbankan Keselamatan Anak

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 06:40 WIB
Usai upacara bendera, semua siswa saling memberi salam dan perkenalan dengan siswa baru kelas 1. CNNIndonesia/Safir Makki Ilustrasi. Upacara bendera di salah satu sekolah dasar. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sela riuh ramai jalanan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), berembus kabar soal rencana pembukaan sekolah kembali.

Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI menyebut pihaknya sudah menyiapkan sejumlah skenario terkait belajar mengajar selama pandemi.

"Penanganan skenario apapun (soal pembukaan sekolah) terus jadi suatu diskusi dengan pakar-pakar dan tentunya keputusan itu masih dalam gugus tugas bukan di Kemendikbud," ujarnya Nadiem saat RDP melalui konferensi video, Rabu (20/5).


Ia pun menepis berbagai rumor soal waktu pembukaan sekolah, karena Kemendikbud tidak mengeluarkan pernyataan apapun soal ini.
Meski demikian, pengamat pendidikan Profesor Suyanto menuturkan pembukaan sekolah jangan sampai mengorbankan keselamatan anak-anak.

Menurutnya, musti ada jaminan bahwa anak-anak bisa belajar dengan aman. Jangan sampai pembukaan sekolah dilakukan terburu-buru demi memenuhi desakan kebutuhan ekonomi.

"Membuka sekolah kan bagian dari dunia bisnis. Bisnis kan saat ini macet, retail macet, ya mendesak untuk (sekolah) dibuka. Masalahnya jika dilihat sangat sulit, keselamatan atau ekonomi," kata Suyanto pada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Sabtu (23/5).

Dia menjelaskan pembukaan sekolah secara tidak langsung menggerakkan roda perekonomian. Ada mobilisasi orang otomatis ada peningkatan konsumsi. Perekonomian, lanjutnya, tolok ukurnya adalah konsumsi masyarakat.

Sekolah buka artinya akan ada pergerakan orang dengan alat transportasi, kantin sekolah kembali buka, juga uang saku anak yang bakal lari ke kantong-kantong pedagang makanan di depan sekolah. Suyanto berkata anak sekolah memang menggerakkan ekonomi.

"Tapi kalau sekolah ditutup terus sepi, secara psikologis itu 'Oh ini ada yang gawat', ya memang sebetulnya gawat. Tapi kalau kita pura-pura enggak gawat, lalu sekolah dibiarkan buka, saya cemas kalau enggak ada perlindungan cukup," imbuhnya.

Memastikan anak aman

Di samping persoalan infrastruktur dan masalah korupsi di tubuh Kemendikbud, Nadiem memiliki 'pekerjaan rumah' lebih saat kembali membuka sekolah. Protokol kesehatan terkait Covid-19 seperti cuci tangan dan jaga jarak jelas harus jadi perhatian sekolah.

"Jangan dibayangkan semua sekolah ada (tempat cuci tangan yang cukup). Ini harus disiapkan," ujar Suyanto.

Guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta ini pun berkaca dari pengalaman Prancis. Melansir dari Business Insider, usai pembukaan sekolah Perancis mencatat sebanyak 70 kasus Covid-19 baru.

Menteri Pendidikan Perancis Jean-Michel Blanquer kasus ini ditemukan setelah seminggu sekolah buka. Menurutnya kasus ini adalah sesuatu yang 'tak bisa dihindari'.

Suyanto menambahkan status orang tanpa gejala (OTG) pun membuat virus ini makin tak terlihat.

"Saran saya untuk kementerian, kalau sekolah mau dibuka harus dipastikan anak-anak kita aman. Tapi kalau bukanya dengan alasan supaya ekonominya bergerak, harus dipikir ulang tentang social benefit dan social cost-nya," katanya.
(els/ard)

[Gambas:Video CNN]