Pernyataan Syaiful merespons wacana Kemendikbud yang berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. Wacana itu terkait persiapan The New Normal di empat provinsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antaranya, harus ada kejelasan terkait protokol kesehatan bagi siswa dan tenaga pendidikan di sekolah guna menekan penyebaran Corona.
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen |
"Kami meminta wacana pembukaan sekolah perlu pertimbangan matang. Mulai dari posisi sekolah di zona covid. Protokol kesehatannya bagaimana? Hingga sosialisasi dan evaluasi pelaksanaannya di lapangan harus jelas," ujar Huda.
Selain itu, Huda menyatakan pembukaan sekolah di masa pandemi corona merupakan sebuah pertaruhan besar. Terlebih lagi, laju penularan Covid-19 di tanah air kian meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan sampai saat ini.
"Jika dipaksakan membuka sekolah di wilayah-wilayah tersebut maka potensi penularannya di kalangan peserta kegiatan belajar-mengajar akan sangat besar," ujarnya.
Sementara jumlah PDP anak di Indonesia dengan berbagai penyakit sebanyak 3.400 kasus.
"Fakta ini menunjukkan jika anak-anak usia sekolah juga rentan tertular sehingga jika sekolah kembali dibuka harus dipersiapkan secara matang," kata dia.
Hingga kini, sekolah di sebagian besar daerah di Indonesia masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena dampak dari pandemi Corona.
[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid menyatakan rencana pembukaan sekolah ini dimungkinkan untuk sekolah di daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah corona.
Meski demikian, Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan keputusan sekolah kembali dibuka merupakan wewenang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Nadiem sendiri menyatakan pihaknya sudah menyiapkan skenario terkait jalannya pendidikan di tengah pandemi. Namun, ia sendiri tak merinci detail skenario tersebut.
(rzr/bac)
Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen