DPR Tolak Sekolah di Zona Merah Corona Kembali Dibuka

CNN Indonesia | Selasa, 26/05/2020 21:13 WIB
Gedung DPR-MPR Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (25/9). CNN Indonesia/Adhi Wicaksono. Ilustrasi DPR. (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menolak wacana pembukaan sekolah di zona merah penyebaran virus corona (Covid-19) oleh pemerintah untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.

Pernyataan Syaiful merespons wacana Kemendikbud yang berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. Wacana itu terkait persiapan The New Normal di empat provinsi.

"Pertama, posisi sekolah di zona Covid-19. Jika sekolah berada di zona hijau boleh saja dibuka kembali. Namun jika di zona merah wacana pembukaan sekolah harus ditolak," kata Huda dalam keterangan resminya, Selasa (26/5).


Lebih lanjut, Huda meminta kepada pemerintah harus mempertimbangkan semua aspek sebelum kembali membuka proses belajar dan mengajar di sekolah.

Di antaranya, harus ada kejelasan terkait protokol kesehatan bagi siswa dan tenaga pendidikan di sekolah guna menekan penyebaran Corona.

Protokol Kesehatan ini di antaranya proses pemeriksaan kesehatan bagi guru dan siswa. Siswa atau murid yang mengidap penyakit komorbid atau bawaan sebaiknya tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Infografis Aturan New Normal Ritel dari KemenkesFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen
Para peserta belajar mengajar ini juga disarankan melakukan tes PCR sebelum pembukaan sekolah. Pola duduk juga harus diatur. Begitu pula disinfektan dan hand sanitizer di setiap sekolah wajib tersedia.

"Kami meminta wacana pembukaan sekolah perlu pertimbangan matang. Mulai dari posisi sekolah di zona covid. Protokol kesehatannya bagaimana? Hingga sosialisasi dan evaluasi pelaksanaannya di lapangan harus jelas," ujar Huda.

Selain itu, Huda menyatakan pembukaan sekolah di masa pandemi corona merupakan sebuah pertaruhan besar. Terlebih lagi, laju penularan Covid-19 di tanah air kian meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan sampai saat ini.

"Jika dipaksakan membuka sekolah di wilayah-wilayah tersebut maka potensi penularannya di kalangan peserta kegiatan belajar-mengajar akan sangat besar," ujarnya.

Huda juga menilai anak-anak usia sekolah sangat rentan tertular corona. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Jumat (22/5) lalu, jumlah anak yang positif Covid-19 mencapai 831 anak atau 4 persen dari jumlah keseluruhan pasien positif.

Sementara jumlah PDP anak di Indonesia dengan berbagai penyakit sebanyak 3.400 kasus.

"Fakta ini menunjukkan jika anak-anak usia sekolah juga rentan tertular sehingga jika sekolah kembali dibuka harus dipersiapkan secara matang," kata dia.

Hingga kini, sekolah di sebagian besar daerah di Indonesia masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena dampak dari pandemi Corona.

[Gambas:Video CNN]
Sebelumnya, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid menyatakan rencana pembukaan sekolah ini dimungkinkan untuk sekolah di daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah corona.

Meski demikian, Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan keputusan sekolah kembali dibuka merupakan wewenang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Nadiem sendiri menyatakan pihaknya sudah menyiapkan skenario terkait jalannya pendidikan di tengah pandemi. Namun, ia sendiri tak merinci detail skenario tersebut.

(rzr/bac)