Kepala Pusdiklatlitbang LPP RRI Adi Pramono mengklaim pihaknya tak terlibat sama sekali dalam proses riset, meski ada nama dan logo mereka saat survei itu dipublikasikan.
"Enggak (terlibat sama sekali), yang survei dan yang melakukan semuanya itu Indo Barometer," kata Adi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (27/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan bukan kesepakatan kita. Kesepakatan kita adalah masalah kemiskinan," ucapnya.
"Sekali lagi kami menegaskan, Indo Barometer yang mengumpulkan data, riset dan mengolah data," ujar Qodari dalam video klarifikasi yang diterima CNNIndonesia.com dari RRI, Rabu (27/5).
Poin pentingnya, masih kata Qodari, apa yang menjadi temuan riset yang kemarin dipublikasikan merupakan fakta yang sebenar-benarnya terjadi di lapangan.
"Terpenting bahwa laporan atau analisanya itu tidak keluar dari temuan yang kita (tim Indo Barometer) peroleh di lapangan," ujar Qodari.
"Saya kira itu yang bisa kami sampaikan semoga riset ini bisa membawa manfaat dan kebaikan bagi bangsa," tutupnya.
CNNIndonesia.com telah mencoba meminta konfirmasi ke Qodari langsung terkait bantahan RRI ini. Namun pesan singkat dan telepon yang dilayangkan tidak direspons sama sekali oleh Qodari.
Sebelumnya, Indo Barometer merilis hasil "Survei Jurnalisme Presisi: Pengangguran dan Kemiskinan". Dalam rilis survei itu, tertulis "Puslitbangdiklat RRI bekerja sama dengan Indo Barometer". Logo RRI pun tertera di seluruh halaman hasil survei.
Survei itu mencatat 53,8 persen publik tidak puas dengan penanganan pandemi virus corona (Covid-19) yang dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.
Survei dilakukan kepada 400 responden yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
Metode yang digunakan adalah quota & purposive sampling. Margin of error tercatat kurang lebih 4,90 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (ain/dhf/ain)