Cuitan Aditya tersebut bermula dari unggahan utasnya pada Selasa (26/5) kemarin. Cuitan itu kemudian ramai mendapatkan respon publik.
"Oke kalau gitu kita mulai saja... SEBUAH UTAS tentang bobroknya penanganan COVID-19 di Surabaya," tulisnya akun @cakasana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CNNIndonesia.com sendiri telah melakukan konfirmasi ke dr Aditya melalui pesan singkat dan panggilan telepon. Namun, yang bersangkutan menolak memberikan jawaban.
"Maaf mas, kalau wawancara saya rehat dulu ya. Maaf," kata Aditya, sembari mengirimkan potret dirinya sedang memakai alat pelindung diri (APD).
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi |
Selama ini pihaknya sudah memasok bantuan APD 82.651 buah kepada 50 rumah sakit rujukan dan non-rujukan serta Labkesda yang ada di Kota Surabaya.
"Total ada 82.651 baju APD yang diberikan kepada 63 puskesmas, 50 RS rujukan dan non rujukan serta Labkesda. Selain itu, kami juga bantu masker bedah, masker N95, Face Shield, sepatu booth, google, sarung tangan, ventilator, dan berbagai peralatan medis lainnya ke rumah sakit-rumah sakit itu," kata Fikser.
Fikser mengatakan bantuan APD dan berbagai peralatan medis itu diharapkan dipergunakan untuk tenaga medis saat bertugas. Soal teknis pembagian ke para tenaga medis, hal itu merupakan otoritas rumah sakit masing-masing.
Fikser pun menyebut pihaknya terus transparan dalam menangani kasus penularan Corona.
"Selain itu, kami juga melakukan penanganan Covid-19 dengan melakukan rapid test massal dan yang reaktif diajukan untuk melakukan tes swab. Ini semua kami buka karena kami tidak ingin seperti gunung es, kami buka tabir ini semuanya," kata dia.
Jika masih ada pihak yang masih tak puas dengan penanganan Corona yang dilakukan pihaknya, ia berharap yang bersangkutan bersedia langsung menyampaikan keluhannya ke Pemkot Surabaya.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
Sementara itu, juru bicara RS Royal Surabaya dr Dewa Nyoman Sutanaya mengonfirmasi bahwa dr Aditya memang dokter yang bertugas di instalasi gawat darurat (IGD) pihaknya.
Soal cuitan Aditya, Dewa memastikan bahwa hal itu adalah informasi yang tidak benar dan menganggap peryataan tersebut adalah pendapat pribadi yang bersangkutan tanpa didukung data yang valid.
"Pihak Rumah Sakit Royal Surabaya tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang menjadi pendapat atau pernyataan pribadi karyawan rumah sakit di media sosial maupun media lainnya," kata Dewa melalui keterangan tertulisnya.
"Dalam hal ditemukan adanya dugaan pelanggaran etik dan disiplin yang dilakukan, maka pihak rumah sakit akan melanjutkan kasus ini ke Komite Etik dan Hukum RS Royal Surabaya," ujarnya.
"Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi," pungkas dia.
(frd/arh)
Foto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
Foto: CNN Indonesia/Fajrian