2 Pasien Corona Lebaran di Sumbar, 41 Warga Dikarantina

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 23:18 WIB
Dokter berdiri di ruang modular di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020). Rumah Sakit darurat COVID-19 tersebut berkapasitas sebanyak 160 tempat tidur dalam ruangan dan 65 kamar isolasi bertekanan negatif untuk merawat pasien positif COVID-19 sesuai standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Ilustrasi penanganan Corona. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Padang, CNN Indonesia -- Dua pasien positif Covid-9 berlebaran di kampung halaman mereka di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar). Akibatnya, 41 warga yang berkontak fisik dengan mereka dikarantina.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pessel, Rinaldi, mengatakan pasien pertama merupakan laki-laki (27), warga Nagari Kapuh, Kecamatan Koto XI Tarusan.

Pasien tersebut bekerja sebagai tukang parkir dan petugas jaga malam di Pasar Raya Padang. Karena itu, pasien itu termasuk ke dalam klaster Pasar Raya Padang yang merupakan klaster terbesar penularan Covid-19 di Sumbar.


"Ketika dia pulang, hasil tes PCR-nya belum keluar. Hasil tesnya baru keluar pada Senin (25/5). Setelah hasil tesnya keluar, kami melakukan penelusuran terhadap riwayat kontaknya di kampungnya. Diketahui sebelas orang berkontak fisik dengannya dan sudah dikarantina," ujar Rinaldi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/5).

Pasien kedua, kata Rinaldi, merupakan laki-laki (36), warga Padang, yang bekerja sebagai pegawai honorer di Dinas Pasar Kota Padang. Ia berlebaran ke Kampung Koto Tuo, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batang Kapas. Hasil tes PCR-nya baru keluar pada Rabu (27/5).

Dinas Kesehatan Padang kemudian mengabarkan kepada pihaknya bahwa salah satu pasien positif Covid-19 di Padang berlebaran di Pessel. Rinaldi kemudian melakukan penelusuran kontak pasien di kampungnya itu.

Infografis Cek Poin PSBB dan Larangan Mudik di DKI JakartaFoto: CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi
"Diketahui bahwa dia berkontak fisik dengan 30 warga di Nagari IV Koto Hilie, yang merupakan keluarga dan tetangganya. Kini petugas masih melakukan menelusuri riwayat kontak fisiknya," tuturnya.

Petugas Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pessel, kata Rinaldi, menjemput ke-30 warga tersebut di rumah mereka masing-masing dengan memakai pakaian hazmat.

Mereka membawa semua warga itu ke rumah susun sewa sederhana di Painan untuk dikarantina dan dites PCR. Mereka dikarantina agar tidak berkeliaran dan tidak menulari orang lain jika positif Covid-19.

"Sebelas warga di Tarusan dan 30 warga di Batang Kapas ini sudah kami ambil swab tenggorokannya hari ini. Hasilnya keluar beberapa hari lagi. Apabila ada yang positif di antara mereka, kami akan menelusuri riwayat kontak fisiknya," ucap Rinaldi.

Sejauh ini, katanya, jumlah kasus positif Corona di Pessel mencapai 18 kasus. Sebanyak 13 pasien di antaranya sudah sembuh, dan satu pasien meninggal. Tidak ada penambahan pasien baru sejak 26 Mei.

Terpisah, Roby Hervindo, Unit Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I menyebut konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) saat Lebaran Idul Fitri di Sumatera Utara (Sumut) anjlok hingga 11 persen.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
"Untuk pertama kalinya terjadi, selama H-3 hingga H+3 lebaran tahun ini, kami mencatat konsumsi BBM mengalami penurunan," ujar dia, Jumat (29/5).

Rinciannya, konsumsi BBM jenis bensin yaitu Premium, Pertalite, dan Pertamax Series, mencapai 4,5 juta liter per hari. Jumlah ini turun hingga 11 persen dibandingkan konsumsi harian normal sebesar 5 juta liter per hari.

Situasi serupa juga terjadi pada konsumsi BBM jenis diesel (Biosolar, Dexlite dan Dex) mencapai 1 juta liter per hari selama H-3 hingga H+3 lebaran 2020, atau yang anjlok 67 persen dibandingkan rata-rata konsumsi normal.

Sebelumnya, ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan gelombang kedua Covid-19 tak akan bisa dihindari jika pemerintah tak segera mengintervensi warga yang balik dari kampung halaman.

"Sekarang gelombang pertama pun belum selesai. Intinya kalau ada pergerakan masyarakat seperti mudik dan arus balik itu selalu potensi untuk peningkatan kasus," ujar dia, saat dihubungi, Kamis (28/5).

(adb/fnr/arh)

[Gambas:Video CNN]