Dari 196.546 responden orang tua murid, sebanyak 129.937 atau 66 persen tidak setuju. Mereka cemas terkena dampak pandemi virus corona (Covid-19) Hanya 66.609 atau 34 persen yang setuju.
"Data sebaliknya dari orang tua terjadi pada hasil polling anak," kata Komisioner KPAI Retno Listyarti lewat siaran pers, Rabu (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, dari responden siswa sebanyak 9.643 orang, 63,7 persen diantaranya setuju kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dilakukan mulai tahun ajaran baru pertengahan Juli mendatang. Hanya 36,3 persen yang tidak setuju.
Lihat juga:Palembang Berencana Buka Sekolah 15 Juni |
"Guru yang setuju dan tidak setuju berbeda tipis, hanya sekitar 8%, tetapi tetap lebih banyak yang setuju. Kemungkinan para guru juga sudah rindu murid-muridnya," kata Retno.
Polling dilakukan terhadap responden di 5 provinsi dan 91 kabupaten atau kota. Mereka mengisi angket berisi kuisioner yang disebar KPAI lewat Facebook, email dan WhatsApp sepanjang 26-28 Mei.
Responden orang tua sebanyak 196.559 orang, murid 9.643 dan guru 18.111 orang.
"Orangtua yang paling antusias mengikuti pengisian angket ini. Bahkan sampai 2 Juni 2020 masih ada permintaan masyarakat agar angket dibuka kembali karena para orang tua ini ingin menyampaikan pendapatnya," kata Retno.
Kemudian, mayoritas responden siswa yang mengisi polling angket adalah siswa SMA sederajat yakni 42 persen. Diikuti siswa SMP sederajat dengan 34 persen dan SD sederajat 23,1 persen.
"Berdasarkan rentang usia responden siswa, mayoritas berada pada usia 16-18 tahun (39,3%), usia 13-15 tahun (37,6%) dan usia 10-12 tahun (23,1%)," ucap Retno.
Responden guru yang mengisi polling angket mayoritas adalah guru jenjang SMP sederajat, yakni 27,8 persen. Diikuti guru jenjang SD sederajat 26,3 persen, lalu guru jenjang SMA sederajat 23 persen dan 12,7 persen guru jenjang SMK. Ada 9 persen guru sekolah luar biasa dan 1,2 persen guru jenjang TK sederajat yang turut mengisi angket.
(fey/bmw)