Polling KPAI: Siswa-Guru Mau Sekolah Dibuka, Orang Tua Tolak

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 14:41 WIB
Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di SDN Cilandak Timur 05, Jakarta, Selasa, 9 Agustus 2016. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menggagas sekolah sepanjang hari (full day school) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta, tujuannya membuat anak memiliki kegiatan di sekolah dibandingkan berada sendirian di rumah ketika orang tua mereka masih bekerja. CNN Indonesia/Djonet Sugiarto Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah (CNN Indonesia/Djonet Sugiarto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil polling yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan mayoritas orang tua tidak setuju kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dilakukan saat tahun ajaran baru pada 13 Juli mendatang. Namun, mayoritas guru dan murid justru setuju.

Dari 196.546 responden orang tua murid, sebanyak 129.937 atau 66 persen tidak setuju. Mereka cemas terkena dampak pandemi virus corona (Covid-19) Hanya 66.609 atau 34 persen yang setuju.

"Data sebaliknya dari orang tua terjadi pada hasil polling anak," kata Komisioner KPAI Retno Listyarti lewat siaran pers, Rabu (3/6).


Mayoritas orang tua tidak setuju karena menganggap penularan virus corona masih cenderung tinggi. Mereka cemas anaknya tertular di perjalanan menuju dan pulang dari sekolah.
Tak sedikit pula yang cemas dengan fasilitas sekolah. Misalnya, jumlah wastafel untuk cuci tangan yang minim dan jarang ada sabun untuk cuci tangan di toilet sekolah. Orang tua juga menilai selama ini toilet sekolah cenderung tidak bersih dan air yang terbatas.

Sementara itu, dari responden siswa sebanyak 9.643 orang, 63,7 persen diantaranya setuju kegiatan belajar mengajar di sekolah kembali dilakukan mulai tahun ajaran baru pertengahan Juli mendatang. Hanya 36,3 persen yang tidak setuju.

"Tampaknya anak-anak sudah ingin segera sekolah, mereka mulai jenuh di rumah saja. Mereka rindu kebersamaan dengan teman-temannya," kata Retno.
Kemudian, 54 persen dari 18.111 responden guru juga setuju kegiatan belajar mengajar kembali dilakukan di sekolah pada tahun ajaran baru 13 Juli yang akan datang. Ada 46 persen guru yang menolak.

"Guru yang setuju dan tidak setuju berbeda tipis, hanya sekitar 8%, tetapi tetap lebih banyak yang setuju. Kemungkinan para guru juga sudah rindu murid-muridnya," kata Retno.

Polling dilakukan terhadap responden di 5 provinsi dan 91 kabupaten atau kota. Mereka mengisi angket berisi kuisioner yang disebar KPAI lewat Facebook, email dan WhatsApp sepanjang 26-28 Mei.

Responden orang tua sebanyak 196.559 orang, murid 9.643 dan guru 18.111 orang.
Mayoritas responden orang tua bekerja sebagai ibu rumah tangga, yakni sebanyak 84.155 orang atau 43 persen. Sisanya, 43.013 orang atau 22 persen pegawai swasta, 31.553 atau 16 persen pegawai negeri, 19.669 orang atau 10 persen wiraswastawan dan lain-lain 9 persen atau 31.553 orang.

"Orangtua yang paling antusias mengikuti pengisian angket ini. Bahkan sampai 2 Juni 2020 masih ada permintaan masyarakat agar angket dibuka kembali karena para orang tua ini ingin menyampaikan pendapatnya," kata Retno.

Kemudian, mayoritas responden siswa yang mengisi polling angket adalah siswa SMA sederajat yakni 42 persen. Diikuti siswa SMP sederajat dengan 34 persen dan SD sederajat 23,1 persen.

"Berdasarkan rentang usia responden siswa, mayoritas berada pada usia 16-18 tahun (39,3%), usia 13-15 tahun (37,6%) dan usia 10-12 tahun (23,1%)," ucap Retno.

Responden guru yang mengisi polling angket mayoritas adalah guru jenjang SMP sederajat, yakni 27,8 persen. Diikuti guru jenjang SD sederajat 26,3 persen, lalu guru jenjang SMA sederajat 23 persen dan 12,7 persen guru jenjang SMK. Ada 9 persen guru sekolah luar biasa dan 1,2 persen guru jenjang TK sederajat yang turut mengisi angket.


(fey/bmw)

[Gambas:Video CNN]