Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfudz Siddiq menyampaikan bahwa partainya melihat hal yang lebih penting atau darurat untuk dibahas dalam revisi Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) yakni soal pelaksanaan pemilihan anggota legislatif (pileg) serta pemilihan presiden (pilpres) secara serentak.
Menurutnya, model pelaksanaan secara serentak tersebut membuat ratusan penyelenggara meninggal dunia karena faktor kelelahan di penyelenggaraan Pemilu 2019 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu harusnya prioritas revisi. PT tidak terlalu prioritas dan tidak terlalu penting, menurut saya," imbuhnya.
Berangkat dari itu, Mahfudz meminta DPR dan pemerintah melihat dua faktor dalam penetapan PT untuk Pemilu 2024 mendatang yakni filosofi representasi keragaman masyarakat Indonesia dalam proses politik serta variabel penyederhanaan parpol.
Terkait filosofi representasi keragaman masyarakat Indonesia dalam proses politik, kata Mahfudz, hal tersebut harus dilihat karena kondisi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Menurut dia, kemajemukan itu memengaruhi pilihan politik setiap masyarakat.
"Kemajemukan itu harus terepresentasi secara baik dalam sistem pemilu," ujar dia.
Menurutnya, jumlah maksimal 15 parpol seperti yang terjadi dalam 20 tahun terakhir merupakan yang terbaik untuk mewakili berbagai aliran politik yang ada di tengah masyarakat Indonesia.
"Kalau ada penyederhanaan ya penyederhanaan itu maksimal 15 parpol dan itu sudah wakili aliran politik di Indonesia. Kalau didorong PT jadi 7 atau 8 persen, sangat mungkin hasilnya penyederhanaan bisa tinggal lima parpol," ujar Mahfudz.
Diketahui, Komisi II DPR RI tengah menggodok tiga opsi terkait PT dalam pembahasan dalam revisi UU Pemilu. Sebanyak tiga opsi itu adalah tetap di angka 4 persen, naik menjadi 7 persen, atau ambang batas yang berjenjang.
(ain/mts/ain)