"Jadi nelayan-nelayan kita juga harus kita bina. Harus ada strategi capacity," kata Aan dalam sebuah diskusi yang disiarkan secara daring, Jumat (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aan menyebut pendekatan China di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif milik Malaysia itu adalah dengan cara mengirim sebanyak-banyaknya kapal nelayan.
Menurutnya, para nelayan China itu sudah tak lagi memikirkan untung rugi ikan yang didapat, melainkan seberapa jauh mereka bisa mengusai perairan negara lain.
"Sehingga mereka militan. Diberi insentif oleh pemerintah. Mereka bukan militer, tapi mereka terlatih. Karena kalau pendekatan militer China tahu bisa dikecam negara lain," ujarnya.
Jenderal bintang tiga itu menyebut nelayan Indonesia seharusnya juga dilatih dan diberi insentif saat berlayar di wilayah sengketa. Nelayan yang berlayar di sana tak hanya sekedar mencari keuntungan, tetapi hadir menjaga wilayah negara.
"Di daerah yang belum selesai harusnya bukan nelayan biasa (yang berlayar), tapi yang harusnya punya sikap nasionalis. Mereka tidak utamakan nyari keuntungan tapi bagaimana hadir dan menjaga wilayah," katanya.
Untuk itu, Aan mengatakan Indonesia mendukung keputusan Permanent Court of Arbitration atau Mahkamah Arbitrase terkait sengketa Laut China Selatan karena adanya eskalasi di perairan itu.
"Sikap Indonesia ini menunjukkan keseriusan Indonesia terhadap meningkatnya eskalasi di Laut China Selatan belakangan ini yang dipicu dengan sikap asertif China dalam bentuk implementasi kegiatan-kegiatan yang cenderung provokatif," kata Aan melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Rabu (10/6). (tst/fra)