Pada Maret lalu, Majelis Komisioner KIP menyatakan hasil audit BPKP atas BPJS Kesehatan yang telah disampaikan kepada Komisi IX dan XI DPR merupakan informasi terbuka. Putusan itu digugat oleh BPKP ke PTUN pada Jumat (20/4) lalu dengan nomor perkara 64/G/ KI/2020/PTUN.JKT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memerintahkan BPKP untuk menolak memberikan seluruh informasi yang diinginkan," kata dia membacakan amar putusan.
Dalil yang diajukan oleh penggugat, antara lain bahwa informasi hasil audit tersebut merupakan sebuah review sesuai dengan permintaan Menteri Keuangan sehingga akan menyalahi aturan apabila dibuka ke publik.
"Menghukum termohon keberatan untuk membayar biaya yang timbul dalam sengketa ini sebesar Rp270.500," lanjut majelis hakim.
Sidang ini hanya dihadiri oleh pihak penggugat, yakni BPKP. Sementara, peneliti Indonesia Corruption Watch(ICW) Egi Primayoga yang menjadi tergugat dalam sengketa ini tidak menghadiri sidang putusan.
Egi adalah orang yang mengajukan permohonan kepada Majelis KIP untuk menjadikan hasil audit BPKP soa BPJS Kesehatan tahun 2018 dibuka untuk publik.
Kemudian, Ketua Majelis Komisioner KIP Cecep Suryadi menyatakan hasil audit BPKP atas BPJS Kesehatan yang telah disampaikan kepada Komisi IX dan XI DPR merupakan informasi terbuka.
"Menyatakan informasi hasil audit terkait dana jaminan sosial kesehatan sebagaimana pernah disampaikan kepada komisi IX dan XI DPR-RI sebagai informasi yang bersifat terbuka," kata Cecep membacakan putusan di ruang sidang KIP, Jakarta, Selasa (3/2).
Cecep lalu memerintahkan kepada BPKP untuk memberikan informasi hasil audit terhadap BPJS Kesehatan itu kepada Egi, selaku pemohon. (mjo/wis)