Devi salah satu orang tua siswa menganggap kebijakan terkait pembukaan kembali sekolah di zona hijau hasil rekomendasi dari Pemda atau Gugus Tugas Penanganan Covid-19 adalah hal yang tidak tegas.
"Itu enggak tegas namanya. Kalau mau buka ya buka, tutup ya tutup," ujar dia saat ditemui di kediamannya, Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya mengenai pilihan boleh tak ikut KBM tatap muka jika orang tua tak mengizinkan, Devi menjawab peluangnya mengambil opsi tersebut. Meskipun, di satu sisi, dia sebenarnya mengakui sistem PJJ saat ini tak efektif karena longgarnya waktu belajar anak.
Sementara itu, salah satu orang tua asal Kota Batam, Kepulauan Riau, Susilawati, mengatakan keputusan pemerintah untuk membuka sekolah di zona hijau sudah tepat.
"Kalau belum aman, mending jangan masuk dulu, saya juga enggak izinin, kalau memang udah pasti aman, boleh lah dibuka lagi," kata Susilawati saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (15/6).
Selama pandemi ini, ia mengaku sangat membatasi aktivitas anaknya di luar rumah, karena di lingkungannya banyak terdapat kasus positif corona.
"Ini keluar mau main aja enggak boleh, sampai nangis anaknya," ucap dia.
Menurutnya, selama ini, yang menjadi kendala dalam PJJ adalah akses daring di rumahnya, di mana hanya ada satu ponsel pintar sementara buah hatinya ada dua yakni usia SD dan SMP.
"Misalnya ada tugas dari guru, itu harus difoto, nah handphone-nya harus gantian memakainya," ucap dia.
Anggota PMI menyemprotkan desinfektan dalam upaya menahan penyebaran virus corona di dalam ruang kelas di SMPN 139 dan SDN Malaka Jaya 04 Pagi, Jakarta, 9 Juni 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono) |
"Kalau yang buka di zona hijau ya enggak apa-apa menurut saya," kata dia saat dihubungi.
Hal yang membuatnya ingin bisa segera masuk sekolah karena kendala yang dihadapinya dari mulai biaya kuota hingga efektivitas selama masa pembelajaran jarak jauh.
"Kan pakai google meet, saya kadang kurang ngerti penjelasannya," keluhnya.
Hal senada juga diungkapkan Dhea, siswi SMA di Tanggerang Selatan. Ia ingin segera kembali belajar ke sekolah meski masih ada beberapa pasien corona di daerahnya.
"Pengen [masuk sekolah]. Karena kan tahu nih kemaren Banten [kasus positif] dikit, berarti seluruhnya kan, tinggal sembilan," ujarnya melalui pesan singkat.
Ia pun mengaku siap bilamana sekolah kembali dibuka. Beberapa hal seperti memakai masker, dan membawa sabun ke sekolah bila kembali dibuka pun akan dilakukannya. (mln, ndn, yoa/kid)
[Gambas:Video CNN]
Anggota PMI menyemprotkan desinfektan dalam upaya menahan penyebaran virus corona di dalam ruang kelas di SMPN 139 dan SDN Malaka Jaya 04 Pagi, Jakarta, 9 Juni 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Anggota Palang Merah Indonesia menyemprotkan desinfektan dalam upaya menahan penyebaran virus corona di dalam ruang kelas, Jakarta, 9 Juni 2020. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Warga menjemput anaknya pulang dari sekolah di Makassar, Sulawesi Selatan, 16 Maret 2020. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)