Mayoritas Pasien Corona di RSUD Soetomo dari Surabaya

frd/bmw, CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 08:09 WIB
Petugas medis mengenakan alat pelindung diri lengkap di ruang perawatan pasien COVID-19 yang baru saja diluncurkan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (30/4/2020). Berdasarkan data pemerintah, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia per Kamis (30/4) secara kumulatif mencapai 10.118 orang atau bertambah sebanyak 347 kasus dari hari sebelumnya, sementara jumlah pasien sembuh mencapai 1.522 orang dan jumlah pasien meninggal sebanyak 792 orang. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. Ilustrasi perawat khusus penanganan virus corona (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Surabaya, CNN Indonesia --

Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur Joni Wahyuhadi mengungkapkan saat ini pihaknya tengah merawat sebanyak 1.097 pasien positif virus corona (Covid-19).

Dari jumlah itu, sebanyak 865 di antaranya merupakan pasien berdomisili Surabaya. Angka itu setara dengan 79 persen dari total keseluruhan pasien yang dirawat di RSUD Soetomo.

"Seluruh pasien Covid-19 yang dirawat di RSUD dr Soetomo sebanyak 1.097 orang. 865 [di antaranya] atau 79 persen orang Surabaya," kata Joni di Surabaya, Senin (29/6).


Selain Surabaya, Joni mengungkapkan pasien yang dirawat juga berasal dari sejumlah daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur.

"Tetapi yang terbanyak dari Jatim. Jatim yang terbanyak dari Surabaya," ujarnya.

Ia mengaku tak pernah membedakan-bedakan pasien berdasarkan suku, ras, agama, kelompok, atau daerah asal. Semua pasien berhak menerima perawatan. Joni mengatakan hal itu sebagaimana undang-undang serta sumpah dokter.

Kondisi yang sama juga terjadi di RS Lapangan atau RS Darurat yang didirikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim di Surabaya. Pasien yang dirawat, kata dia, juga mayoritas berasal dari Surabaya.

"Kemudian data di RS Lapangan juga demikian. Pasien yang terbanyak juga dari Surabaya. Kenapa? Karena memang kita di Surabaya," ucapnya.

Joni mengungkapkan itu semua usai dikunjungi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Dalam kesempatan itu, Risma menangis dan bersujud di hadapan Ketua Pinere RSUD dr Soetomo, dr Sudarsono.

Saat itu Sudarsono memaparkan kondisi rumah sakit rujukan di Surabaya yang disebut telah kelebihan kapasitas atau overload. Kondisi itu membuat banyaknya pasien meninggal dunia.

Menurutnya pasien corona yang meninggal karena memang kondisinya sudah kritis karena ada penyakit bawaan atau penanganan yang tidak optimal lantaran kelebihan kapasitas. 

Sudarsono mengatakan kondisi overload itu berdasarkan laporan beberapa dokter jaga, di rumah sakit rujukan lain di Surabaya. Sejumlah pasien yang sudah kritis, katanya, tak bisa mendapatkan perawatan.

"Saya itu tiap malam dikonsultasi dokter-dokter jaga di rumah sakit, 'dok mohon maaf saya konsul nggeh, kayak gini bagaimana', ini PDP masuk dirawat, 'Enggak ada tempat dok, rujuk enggak ada tempat', Itu RS seperti itu, pasien mati sia-sia, karena memang overload," katanya

Sudarsono mengatakan selain terjun langsung di IGD, Poli dan ruang isolasi untuk merawat pasien Covid-19, ia juga seringkali mendapatkan permintaan konsultasi dari dokter rumah sakit rujukan lain.

"Saya tahu, tidak langsung di Soetomo, tapi saya di WhatsApp karena mereka [dokter] itu mantan-mantan murid saya," katanya.

Ia juga bercerita bahwa dirinya sempat menangis saat dimintai tolong oleh pasien yang membutuhkan ruang perawatan. Namun karena kapasitas yang penuh, ia mengaku tak bisa berbuat apa-apa.

(sur)

[Gambas:Video CNN]