Kadishub DKI: Ganjil Genap Belum Mendesak Diberlakukan

CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 19:36 WIB
Petugas kepolisian mengatur lalulintas saat hari pertama penindakan sistem ganjil-genap di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). Petugas kepolisian mulai memberlakukan penindakan berupa tilang terhadap pengendara mobil yang melanggar di kawasan perluasan sistem ganjil-genap. ANTARA FOTO/Galih Pradipta Petugas kepolisian mengatur lalu lintas di ruas jalan Jakarta. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Jakarta, CNN Indonesia --

Volume kendaraan di jalanan DKI Jakarta selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi di Jakarta disebut mendekati situasi normal. Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, rata-rata per jam-nya ada sekitar 6.000 kendaraan yang melintas di Jakarta.

Namun, Pemprov DKI menyatakan belum berencana memberlakukan sistem ganjil-genap.

"Kesimpulan kami memang, untuk saat ini agar kita sambil menjaga agar Jakarta tidak terpapar gelombang kedua Covid, kami sarankan untuk ganjil genap belum mendesak diberlakukan," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo dalam rapat pimpinan di Balai Kota.


Rekaman rapat tersebut baru diunggah pada saluran resmi Pemprov DKI di YouTube pada Kamis (2/7).

Kata Syafrin, di masa PSBB transisi terlihat grafik volume kendaraan sudah mendekati di angka normal, walaupun untuk puncaknya terjadi pergeseran.

Syafrin menjelaskan, volume kendaraan di masa normal rata-rata 7.000 unit per jamnya, dan puncak volume kendaraan di pagi hari pukul 07.00 WIB. Sementara, pada masa PSBB transisi puncak lalu lintas bergeser dari pukul 07.00 WIB menjadi pukul 08.00-09.00 WIB.

Selama masa PSBB transisi, Pemprov DKI diketahui memberlakukan pembagian sif kerja, yakni sif pertama pada pukul 07.00 WIB dan sif kedua pada pukul 10.00 WIB. Selain itu, perusahaan juga masih diminta melakukan pembatasan karyawan dengan hanya 50 persen karyawan yang bekerja di kantor, sementara sisanya masih bekerja dari rumah.

"Artinya pelaksanan imbauan gubernur untuk tetap melaksanakan work from home dan kemudian ada pembagian sif kerja ini sebagian besar berjalan," tutur Syafrin.

Selain itu, Syafrin juga menyampaikan bahwa terjadi perubahan tren pada pengguna mobil di masa PSBB transisi. Menurut Syafrin, pengguna mobil berkurang selama masa PSBB transisi, namun mereka beralih ke kendaraan bermotor roda dua, sehingga volume kendaraan bermotor bertambah 1,3 persen.

"Pergerakan moda share terjadi perubahan dari kondisi normal untuk mobil adalah 27,5 persen sementara proporsi roda dua adalah 71,5 persen," jelas Syafrin.

"Maka pada masa transisi ini ada perubahan dari mobil ke roda dua, ada peningkatan menjadi 72,8 persen, ada penambahan sekitar 1,3 persen untuk pergerakan orang menggunakan sepeda motor," lanjutnya.


Syafrin menjelaskan, sebelum pandemi virus corona, perjalanan orang di Jakarta mencapai 26,4 juta perjalanan per hari, dengan rata-rata satu kendaraan diisi dua penumpang. Maka, total orang yang melakukan perjalanan di Jakarta yakni 13,2 juta orang per hari.

Sementara itu, sejalan dengan kebijakan belajar dari rumah yang diterapkan selama masa pandemi, menurutnya ada pengurangan 2.557.840 orang dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun dosen yang tidak melakukan perjalanan di Jakarta.

Sehingga, jika disimulasikan, selama masa PSBB transisi ini ada sekitar 10.642.160 orang per hari yang masih melakukan perjalanan di Jakarta. Kemudian, jika dikurangi 30 persen jumlah pekerja yang masih menjalani sistem kerja dari rumah atau work from home, maka didapati masih ada 7.761.440 orang per hari yang melakukan perjalanan di Jakarta selama masa PSBB transisi.

Dari hasil simulasi Dishub, menurut Syafrin, jika menerapkan kebijakan ganjil genap selama masa PSBB transisi ini, maka pengguna angkutan umum bisa bertambah 566.787 penumpang per jam di Jakarta.

Menurutnya, kapasitas angkutan umum di Jakarta di situasi normal memang mampu menampung 1,8 juta penumpang per jam. Namun, jika disimulasikan lagi, untuk kapasitas angkutan umum yang menjadi moda utama masyarakat seperti MRT, TransJakarta, LRT, dan KRL pada masa transisi ini jika ditotal hanya bisa menampung 139.680 penumpang per jam.

"Artinya tidak mampu menampung limpahan dari pembatasan ganjil genap. Jika terjadi, maka akan terjadi kembali penumpukan di angkutan umum, karena di angkutan umum kita saat ini masih menerapkan physical distancing," jelasnya.

(dmi/ugo)

[Gambas:Video CNN]