Jabar Fokus Pelacakan Agresif Corona, DKI Bangun Lab Satelit

CNN Indonesia | Minggu, 05/07/2020 06:03 WIB
Tim medis Puskesmas Kramat Jati mengambil sampel lendir saat tes swab pada ibu hamil di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Dahlia, Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta, Jumat, 12 Juni 2020. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono Ilustrasi tes swab. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Bandung, CNN Indonesia --

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid -19 Jabar Ridwan Kamil alias Emil mengatakan konsistensi pelacakan kontak yang dilakukan pihaknya menjadi salah satu faktor pengendalian sebaran Virus Corona.

"Setiap satu yang kena dan satu meninggal karena Covid-19, itu lingkungan keluarga, temannya, semuanya contact tracing. Itu jadi sudah jadi standar prosedur gugus tugas. Makanya, sebaran Covid-19 agak terkendali karena kami agresif dalam pelacakan kontak," kata dia, yang juga menjabat Gubernur Jabar, dalam keterangan persnya, Sabtu (4/7).

Sementara itu, Wakil Sekretaris Gugus Tugas Jabar sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Jabar Berli Hamdani mengatakan temuan orang yang pernah kontak dengan pasien positif adalah upaya strategis guna menyetop penularan.


"Pelacakan kontak didahului dengan mengidentifikasi kontak erat selama 14 hari ke belakang dari dilakukannya swab test. 14 hari ini dianggap sebagai masa inkubasi terpanjang Covid-19," katanya.

Namun, kata dia, melacak kontak pasien terkonfirmasi positif bukan hal mudah. Salah satu kendala adalah memastikan semua kontak erat teridentifikasi berdasarkan nama dan alamat.

"Komunikasi dengan kontak kunci atau orang yang paling mengetahui dengan siapa saja dan kapan terjadi kontak jadi kendala kami. Begitu juga kecepatan dan ketepatan penetapan kontak," ucapnya.

Infografis Perbedaan Rapid Test dan RT-PCRFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian

Komunikasi yang efektif dan persuasif, kata Berli, amat penting guna menyelesaikan kendala dalam pelacakan kontak.

"Saat ini, rasio pelacakan kontak Jabar ada di angka 25,12. Kami juga terus meningkatkan pelacakan kontak yang disertai dengan tes, baik rapid test maupun swab test," katanya.

Dalam pelacakan kontak, gugus tugas provinsi melibatkan banyak pihak. Mulai dari TNI/Polri, Satpol PP, gugus tugas kabupaten/kota, trisula desa, pegawai kelurahan, sampai relawan.

Terpisah, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menyebut pihaknya membangun laboratorium untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan lewat metode rapid test dan Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Bentuknya, Laboratorium Satelit Covid-19 yang berlokasi di sebagian lahan RSUD Pasar Minggu dan RSUD Duren Sawit, sejak 9 April. Saat ini, kata dia, jejaringnya sudah mencapai 45, atau meningkat dari sebelumnya 41, laboratorium pemeriksa Covid-19.

Pemeriksaan masif secara selektif, termasuk dengan tes cepat, katanya, terus dilakukan di kelurahan terpilih yang dikaji secara epidemologis dan menurut kepadatan penduduk. Sasarannya, warga lansia, warga dengan kasus penyakit tertentu, dan ibu hamil.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

"Total sebanyak 246.372 orang (hari sebelumnya 243.010 orang) telah menjalani rapid test," ucapnya.

"Dengan rincian 8.569 orang (hari sebelumnya 8.449 orang) dinyatakan reaktif Covid-19 dan 237.735 orang (hari sebelumnya 234.561 orang) dinyatakan non-reaktif," tuturnya.

Untuk kasus positif, Ani menyebut itu ditindaklanjuti dengan uji usap (swab test) secara PCR. Apabila hasilnya positif, warga terkait dirujuk ke Wisma Atlet atau RS atau dilakukan isolasi secara mandiri di rumah.

Sejauh ini, kata dia, kasus positif di DKI mencapai 12.039 orang, dengan 7.377 orang di antaranya sembuh, dan 650 orang meninggal.

(hyg/Antara/arh)

[Gambas:Video CNN]