Kemendikbud Khawatir Pelajar Papua Putus Sekolah Usai BDR

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 00:05 WIB
Siswa kelas 3 Sekolah Dasar (SD) mengikuti kegiatan belajar mengajar di rumah melalui siaran televisi TVRI di Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Program Belajar dari Rumah melalui siaran TVRI  merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua kalangan masyarakat di masa darurat Covid-19, dan  Program Belajar ini bisa dinikmati oleh anak-anak dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA, hingga dewasa. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc. Ilustrasi belajar dari rumah saat pandemi virus corona. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno mengatakan mendapatkan laporan dari sejumlah guru di Papua yang khawatir akan ancaman putus sekolah akan terjadi di wilayah itu, setelah masa Belajar Dari Rumah (BDR) berakhir.

"Yang kita terima informasi dari Papua ketakutan akan kemungkinan putus sekolah, karena para guru khawatir setelah BDR ini, anak tidak kembali lagi ke sekolah," kata dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI, Kamis (9/7).

Ia menyebut, Kemendikbud akan membuat kebijakan agar ancaman putus sekolah pasca Belajar Dari Rumah di daerah-daerah tidak terjadi.

"Bersama pemerintah daerah melakukan pemetaan potensi putus sekolah, untuk sedini mungkin membuat langkah-langkah mencegahnya," kata dia


Lebih lanjut, ia mengatakan, terkait dengan metode BDR, Kemendikbud telah melakukan dua kali survei. Survei pertama dilakukan dengan responden Guru dan Kepala Sekolah. Survei kedua dilakukan dengan responden Siswa dan Orang Tua.

Dari survei yang dilakukan, didapatkan hambatan utama dari metode Belajar Dari Rumah adalah mayoritas siswa yang kesulitan memahami pelajaran, hingga kurang konsentrasi.

"Tidak dapat bertanya langsung, sehingga kebiasaan dari tatap muka bisa interaksi langsung, memahami mata pelajaran dipandu oleh guru, ketika belajar sendiri dari rumah butuh perjuangan cukup tinggi," kata dia

Dari survei itu juga, didapatkan hasil mayoritas siswa yang tidak setuju dengan sistem belajar dari rumah.


"Persepsi siswa tentang belajar dari rumah ini pada umumnya tidak setuju. Mayoritas tidak setuju, mereka tetap lebih senang belajar tatap muka di sekolah, meski kalau laki-laki lebih dari 40 persen bahwa belajar dari rumah lebih menyenangkan," kata dia

Mendikbud Nadiem Makarim sebelumnya memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka di wilayah yang berstatus zona hijau atau zona aman penyebaran virus corona Covid-19) pada tahun ajaran baru 2020/2021.

Nadiem merinci jumlah peserta didik di tingkat pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah di zona hijau penyebaran corona hanya berkisar 6 persen dari total peserta didik.


[Gambas:Video CNN]

"Untuk saat ini karena hanya 6 persen populasi peserta didik kita di zona hijau, hanya mereka yang kita berikan untuk pemerintah daerah mengambil keputusan untuk melakukan sekolah tatap muka," kata Nadiem dalam konferensi pers melalui sambungan jarak jauh, Senin (15/6).

(yoa/ayp)