Kemdikbud soal Keluhan Guru 3T: Tak Ikut Webinar, Cari Google

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 01:40 WIB
setiap siswa mendapatkan buku catatan kesehatan (suhu tubuh) Yang diisi sejak berangkat sekolah, masuk sekolah, hingga masuk kelas. Dan menjadi catatan kesehatan bagi guru dan orangtua murid. CNN Indonesia/Safir Makki Ilustrasi kegiatan belajar di sekolah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Iwan Syahril merespons protes guru di daerah tertinggal terdepan dan terluar (3T) yang terkendala akses hingga fasilitas dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Tentunya dengan semua keterbatasan kita melihat banyak guru yang bisa melakukan pembelajaran, atau belajar dengan satu sama lain di daerah 3T," ungkapnya melalui konferensi video, Senin (13/7).

Ia mengklaim pembelajaran di sejumlah daerah 3T juga masih bisa terlaksana meskipun banyak kendala. Hal ini ia dapati berdasarkan laporan maupun pantauan pihaknya.


Perkara pelatihan guru menghadapi PJJ, Iwan mengatakan pihaknya sudah membuat pelatihan melalui sesi webinar. Pelatihan dilakukan selama dua minggu dan membahas kendala serta metode belajar di tengah pandemi.

"Dalam dua minggu sudah lebih dari 400 ribu [peserta]. Tapi ini video kan ada di Youtube juga. Kalau guru tidak sempat ikut webinar, bisa cari di Google. Webinar ini untuk persiapan pembelajaran tahun ajaran di tengah pandemi," ujarnya.

Ia mengatakan Kemendikbud juga meluncurkan laman Guru Berbagi yang bisa diakses secara daring. Laman ini dibuat sebagai tempat guru mengunggah dan mengakses materi belajar daring maupun luring.

Iwan mengatakan sejak laman tersebut dibuat beberapa bulan lalu, sudah ada 1,5 juta pengguna dan 13 juta akses yang tercatat. Laman ini diharapkan bisa membantu proses mengajar guru di tengah pandemi.

Lebih lanjut, ia mengatakan pada masa krisis guru harus bisa menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi. Ia bercerita masih banyak guru yang bertanya apakah penyesuaian sampai penyederhanaan kurikulum dan penilaian bisa dilakukan selama PJJ.

"Masih sering guru menanyakan apa boleh kurikulum disesuaikan, menyederhanakan pembelajaran, penilaian tidak seperti biasa. Ya memang boleh. Dari surat edaran Mas Menteri, Sekretaris Jenderal, sudah detail itu," lanjutnya.

Sebelumnya sejumlah guru mengaku pelatihan mengajar di tengah pandemi minim dilakukan pemerintah di daerah terpencil. Padahal PJJ paling banyak kendala di daerah terpencil karena kurang akses internet sampai fasilitas penunjang.

"Kita masih bingung ini gimana cara ngajar dengan keterbatasan yang kami miliki," ujar Adimo, Guru SD Negeri 08 Benua di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/7).

Karena banyaknya kendala yang didapati di wilayahnya, sejumlah guru di Konawe Selatan akhirnya sepakat berkunjung ke rumah siswa untuk mengajar.

Hal ini jadi satu-satunya solusi yang dianggap solutif bagi guru dan tenaga pendidik di Konawe Selatan. Terlebih karena pelatihan atau bantuan dari pemerintah masih minim diterima tenaga pendidik di sana.

Ridwan, seorang guru di SD Negeri 015 Muara Muntai di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur juga mengatakan banyak guru tak bisa mengakses video pelatihan mengajar yang dibuat Dinas Pendidikan.

Pasalnya video tersebut disebarkan melalui media daring. Padahal menurutnya, salah satu kendala besar yang dihadapi guru di wilayahnya adalah keterbatasan akses internet.

Bahkan putusnya sosialisasi pemerintah ke daerah bukan hanya soal pelatihan. Ridwan mengatakan kebijakan pemerintah pusat pun kerap tak sampai ke lapangan karena kendala sosialisasi.

"[Soal] Alokasi anggaran untuk kuota [dari dana BOS] saja tidak jalan. Karena banyak yang enggak tahu ada kebijakan itu. Sosialisasi minim sekali," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

(fey/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK