Restu dan Harap Cemas Ortu Sekolah Hari Pertama saat Corona

Suriyanto, CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 06:44 WIB
Situasi sekolah Victory Plus Bekasi, Jawa Barat yang menggelar kegiatan pembelajaran secara tatap muka saat tahun ajaran baru, Senin (12/7). Situasi sekolah Victory Plus Bekasi, Jawa Barat yang menggelar kegiatan pembelajaran secara tatap muka saat tahun ajaran baru, Senin (12/7). (CNN Indonesia/ Michael Josua)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lukita, duduk sembari menatap layar telepon selulernya yang menyala di halaman depan sekolah Victory Plus, Bekasi, Jawa Barat. Bukan tanpa sebab, dia sedang menunggu anak sulungnya yang kembali bersekolah secara tatap muka di hari pertama Tahun Ajaran Baru 2020 di masa pandemi Covid-19

Nampaknya bukan hal mudah memberi restu bagi sang anak untuk kembali bersekolah selama masa pandemi. Apalagi, saat ini penambahan kasus lagi tinggi-tingginya. 

"Sebenarnya saya kaget juga waktu pertama kali diberi informasi kalau akan kembali pembelajaran on site (tatap muka)," kata Ibu paruh baya ini saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di lokasi itu, Senin (13/7). 



"Sempat mempertanyakan, apakah aman ya?" lanjutnya.

Kekhawatiran itu pun nampak saat anak sulung yang menduduki kelas 7 itu selesai belajar. Anak berkaca mata itu menghampiri Lukita sembari tersenyum menenteng tas sekolahnya. 

Senyum itu lantas dibalas dengan pertanyaan "Bagaimana belajar di kelas tadi", sebuah pertanyaan klasik karena dilontarkan ketika dirinya was-was dengan keadaan sang anak. 


Keduanya pun lanjut bercerita tentang suasana 'melepas rindu' sang anak di hari pertamanya kembali bersekolah secara tatap muka. 


Anak yang cukup fasih berbahasa Inggris itu mengungkapkan rasa senangnya bisa kembali bertemu teman-temannya. Dia bahkan menceritakan secara detil suasana pertemuan  perdananya di sekolah itu. 

Di selang-selang perbincangannya pun kemudian sang Ibu memberikan cairan sanitasi ke tangan anaknya.

Disebutnya, hal itu sebagai bentuk proteksi terhadap buah hatinya semasa pandemi corona saat ini. Belum lagi, dia habis beraktivitas dengan anak-anak lainnya.


"Sudah kangen, makanya saya beri izin. Kan sekitar 3 bulan dia (anaknya) hanya di rumah aja. Nggak bisa ketemu temen, paling cuma lewat video call," lanjut dia bercerita. 


"Namanya mahluk sosial kan meskipun ada video call, tapi pasti ada yang kurang juga," ujar Lukita lagi.


Lukita menceritakan, dirinya bisa mantap merestui anaknya untuk kembali bersekolah lantaran sudah mempersiapkan sejumlah hal untuk melindunginya. Dia mewanti-wanti anaknya untuk tidak melepas masker yang dikenakan. 

Tidak berinteraksi dan bersentuhan langsung dengan rekan-rekan lainnya selama di sekolah, dan selalu mencuci tangan setelah atau habis berkegiatan secara intensif. 


Hal itu, kata dia, dilkukan untuk berjaga-jaga selama masa pandemi ini. 

"Dia membawa masker 3, sama nanti kalau belajarnya sudah normal lagi mungkin saya siapkan baju ganti," cerita Luki. 

Selain itu, kondisi sekolah yang terjaga kebersihan dan ketat dalam penerapan protokol kesehatan itu pun menjadi pertimbangan lain Lukita memberi restu.


Dirinya semakin tenang usai menengok fasilitas-fasilitas yang dipersiapkan sekolah menyambut kedatangan para murid itu. Luki melihat sendiri bagaimana masing-masing meja dipasang pembatas bening, jarak antar murid terjaga, kemudian juga fasilitas cuci tangan terjaga dimana-mana.

Dia menilai, selama ini dirinya sudah banyak memberi edukasi tentang menjaga kebersihan terhadap anak. 

Sehingga, kata dia, tidak sulit untuk mematenkan penerapan protokol kesehatan kepada anaknya di masa pandemi ini. 


Di samping itu, menurutnya bukan hal yang berlebihan apabila dia melakukan rapid tes kembali selepas satu pekan anak-anaknya ini melakukan kegiatan di luar rumah. 

"Mungkin setelah tujuh hari saya Rapid test lagi. Bukannya merasa gimana sama teman-temannya, tapi kan di masa sekarang kita serba tidak tahu," katanya.

Dia pun mengakui, memberi restu bagi anak untuk kembali bersekolah secara tatap muka bukan perkara mudah. Cerita dia, sebenarnya banyak orang tua yang belum mengizinkan anaknya kembali bercengkrama di sekolah. 

Saat keduanya asyik bercerita, dikatakan sang anak jelas bahwa pada hari ini hanya ada 4 murid yang datang di kelasnya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka. Namun hal itu tidak jadi masalah.


"Sebenarnya banyak orang tua tang belum mengizinkan. Tapi ya sudah, yang penting protokol kesehatan terjaga," pungkas dia. 


Sebagai informasi, Tahun ajaran 2020/2021 dimulai hari ini untuk sebagian besar daerah di Indonesia. Sejumlah daerah di zona hijau diperbolehkan menerapkan pembelajaran tatap muka.

Namun setidaknya 94 persen siswa masih melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Metodenya pun berbeda-beda, mulai dari menggunakan internet, televisi, radio sampai kunjungan guru ke rumah siswa.


Pemkot Bekasi sendiri memperbolehkan aktivitas tatap muka di sekolah kembali berlangsung dengan alasan angka penularan Covid-19 di Kota Bekasi sudah di bawah satu. Bahkan Kota Bekasi juga diklaim sebagai zona hijau.

Setidaknya, ada empat sekolah yang menjadi percontohan dalam penerapan protokol kesehatan ini untuk menggelar kegiatan tatap muka, yakni Sekolah Victory Plus, Al-Azhar, SD Jakasampurna 6 dan SDN 02 Pekayon.

(mjo/sur)

[Gambas:Video CNN]