Ada 38 Korban Tewas Banjir Luwu Utara, Pencarian Diperpanjang

CNN Indonesia | Senin, 20/07/2020 07:46 WIB
Anggota Kepolisian bersama anjing pelacak mencari korban di sekitar kendaraan yang tertimbun material lumpur banjir bandang di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (19/7/2020). Sebanyak dua anjing pelacak dikerahkan guna mencari korban yang masih tertimbun material lumbur akibat diterjang banjir bandang. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc. Tim SAR gabungan menambah waktu pencarian korban banjir bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan selama tiga hari. Ilustrasi (ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim SAR gabungan memutuskan menambah batas waktu pencarian korban banjir bandang yang menerjang sebagian wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada 13 Juli lalu. Perpanjangan batas waktu pencarian itu dilakukan karena masih terdapat korban belum ditemukan.

"Dilihat lokasi dan masih ada korban yang hilang, sehingga Pemda setempat menambah tiga hari masa perpanjangan pencarian," ujar Kepala Basarnas Makassar, Mustari, Minggu (19/7) dikutip dari Antara.

Mustari mengatakan tim SAR gabungan kembali menemukan dua jenazah di dua tempat berbeda kemarin. Sehingga sampai saat ini jumlah korban jiwa banjir bandang itu sebanyak 38 orang.


Korban tanpa identitas jenis kelamin perempuan ditemukan di Dusun Pombakka, Desa Lapapa, Kecamatan Masamba dan satu korban lainnya jenis kelamin laki-laki ditemukan di tepi sungai, Kelurahan Bone Tua, Griya Cendana Permai.

Kedua jenazah korban itu, kata Mustari, dievakuasi ke Rumah Sakit Hikmah guna identifikasi Tim DVI Polda Sulsel. Dari hasil identifikasi satu orang korban perempuan bernama A. Nina Saad berusia 23 tahun.

Dari informasi Tim Assesment SAR gabungan bahwa seorang korban bernama Afni ditemukan selamat dan saat ini mengungsi di Radda, Tugu Coklat.

Hingga kemarin, Minggu (19/7), jumlah korban banjir bandang di Luwu Utara mencapai 1.592 orang. Sebanyak 1.543 orang selamat, 38 orang meninggal dunia dan 11 orang lainnya masih dalam pencarian.

Sementara itu korban meninggal yang sudah ditemukan terdiri dari 15 orang laki-laki dan 23 orang perempuan. Telah terindentifikasi sebanyak 31 orang, sedangkan tujuh jenazah belum terindentifikasi.

Sebanyak 14.438 jiwa dari total 3.627 Kepala Keluarga (KK) mengungsi. Ribuan unit rumah warga, sembilan sekolah, hingga belasan rumah ibadah terdampak banjir bandang tersebut.

Fasilitas kesehatan ikut rusak, seperti Puskesmas, Laboratorium Kesda dan PSC serta delapan kantor pemerintahan. Akses jalan yang terdampak sepanjang 12,8 kilometer dan sembilan jembatan mengalami kerusakan.

Rehabilitasi Lahan

Salah satu penyebab banjir bandang di Luwu Utara adalah aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan sawit.

Direktur Perencanaan & Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M. Saparis Soedarjanto mengatakan pemulihan lahan terbuka di bagian hulu merupakan salah satu solusi mengantisipasi banjir bandang di Luwu Utara.

"Sementara rekomendasi lainnya adalah penegakan hukum terkait dengan pembukaan lahan di kawasan hutan lindung antara Gakum, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan dan KPH Rongkong," kata Saparis.

Menurutnya, kedua rekomendasi itu merupakan hal yang sangat penting dalam mengantisipasi agar bencana demi bencana di lokasi itu tidak terulang lagi.

"Bencana banjir bandang yang melanda enam kecamatan di Luwu Utara disebabkan faktor alam dan manusia," ujarnya.

Faktor alam itu disebabkan curah hujan yang tinggi dengan intensitas di atas 100 mm/hari , sementara kemiringan lereng di hulu DAS Balease sangat curam. Sedang tingkat konsolidasi tanah remah dengan konsistensi gembur.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsolidasi tanah cenderung rendah dan bersifat lepas-lepas (loosematerial). Dari karakteristik tanah dan batuan di lereng yang curam menyebabkan potensi longsor tinggi yang selanjutnya membentuk bendung yang alami, sehingga mudah jebol jika ada akumulasi air berlebih.

"Sementara dari sisi faktor manusia, adanya pembukaan lahan di hulu DAS Baelase dan penggunaan lahan masif berupa perkebunan kelapa sawit," kata Saparis.

(Antara/fra)

[Gambas:Video CNN]