19 Tenaga Kesehatan di RSUD Kuningan Positif Corona

CNN Indonesia | Senin, 03/08/2020 18:48 WIB
Hasil tes usap massal yang dilakukan Pemkab Kuningan mendapati 19 tenaga kesehatan RSUD 45 positif Covid-19. Sebanyak 16 di antaranya menjalani isolasi di RS. Seorang tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri sebelum melakukan pekerjaan merawat pasien Covid-19, Bandung, Jawa Barat, 13 Juli 2020. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Juru bicara Crisis Center Covid-19 Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Agus Mauludin mengatakan 19 tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 45 terkonfirmasi positif terinfeksi virus corona.

Hal tersebut, kata dia, diketahui berdasarkan hasil dari tes usap (swab) massal oleh Pemkab Kuningan beberapa waktu lalu.

"Yang terkonfirmasi positif Covid-19 ada 19 tenaga kesehatan di RSUD 45 Kuningan," kata Agus di Kuningan, Senin (3/8) seperti dikutip dari Antara.


Ia mengatakan dari 19 nakes itu, sebanyak 16 orang di antaranya sudah diisolasi di rumah sakit.

"Sedangkan tiga orang lainnya melakukan isolasi mandiri," ujarnya.

Belasan nakes yang positif Covid-19 itu terdiri atas beberapa dokter, perawat, dan petugas kebersihan di RSUD 45 Kuningan.

Selain itu, sambungnya, atas temuan kasus positif tersebut pihaknya langsung melakukan tes usap massal kembali ke para petugas dan karyawan RSUD 45 Kuningan, untuk mengetahui apakah mereka terpapar virus corona baru atau tidak.

Dengan bertambahnya 19 pasien positif Covid-19, maka sampai saat ini di Kabupaten Kuningan terdapat 70 warga yang sudah terpapar virus corona. Sebanyak 2 di antaranya meninggal dunia, dan 41 orang sudah dinyatakan sembuh serta kembali ke rumahnya.

Seorang tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat jam pertukaran shift di rumah sakit rujukan COVID-19 RSUD Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (13/7/2020). Kementerian Kesehatan menyebutkan per 8 Juli 2020, dari total anggaran insentif tenaga kesehatan COVID-19 sebesar Rp1,9 triliun telah menyalurkannya sebesar Rp284,5 miliar kepada 94.057 tenaga kesehatan baik yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan dan institusi kesehatan pusat. ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.Seorang tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat jam pertukaran shift di rumah sakit rujukan Covid-19. (ANTARA FOTO/Fauzan)

10 Nakes Positif, Puskesmas Depok Sleman Tutup

Sementara itu, di wilayah terpisah, Pemkab Sleman, DI Yogyakarta, memutuskan menutup sementara operasional Puskesmas Depok 1. Penutupan sementara itu karena ada 10 tenaga kesehatannya yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

"Penutupan sementara ini kami lakukan mulai 1 hingga 4 Agustus, dan akan kembali melakukan pelayanan masyarakat pada Rabu 5 Agustus 2020," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo di Sleman, Senin.

Sebelumnya, kata dia, pada akhir Juli baru terdeteksi satu tenaga medis yang terkonfirmasi positif Covid-1. Namun, pada awal Agustus terdapat perkembangan di mana ada sembilan tenaga kesehatan lain yang tertular Covid-19.

"Sehingga total tenaga medis yang positif Covid-19 ada 10 orang. Dari situ kami kemudian mengambil kebijakan untuk menutup sementara operasional Puskesmas Depok 1 selama empat hari," kata Joko.

Ia mengatakan, penutupan operasional tersebut untuk dilakukan sterilisasi semua ruangan dan barang-barang yang ada di Puskesmas Depok 1.

"Pelayanan dibuka kembali pada Rabu 4 Agustus dengan layanan khusus untuk poli umum dan layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang mendesak," katanya.

Selain itu, Joko mengatakan, untuk pelayanan poli gigi sementara masih dalam masa pandemi Covid-19 ditiadakan.

"Sedangkan layanan konseling dilayani sesuai dengan perjanjian," katanya.

Pemkab Sleman sendiri rencananya menjadikan Asrama Haji sebagai fasilitas kesehatan (faskes) darurat untuk mengisolasi pasien positif Covid-19 setelah terjadi lonjakan kasus di wilayah itu.

"Kita akan menggunakan Asrama Haji untuk isolasi yang positif bagi orang tanpa gejala (OTG)," kata Bupati Sleman Sri Purnomo di Sleman, Senin.

Menurut dia, pasien positif asimtomatik ditampung di Asrama Haji untuk mendapatkan perawatan dan jika menampakkan gejala medis mereka baru dirujuk ke rumah sakit (RS).

"Namun kalau selama dalam perawatan mereka hasilnya negatif, maka mereka dipulangkan ke rumah masing-masing untuk melakukan isolasi mandiri," katanya.

Ia mengatakan, munculnya lonjakan kasus postif Covid 19 di Sleman karena beberapa faktor. Pertama adanya tes cepat massal, termasuk untuk para tenaga medis, dan pelacakan kontak langsung (tracing). Kemudian, sekitar setengah bulan lalu di Sleman mulai banyak orang yang datang dari luar daerah untuk kembali bekerja maupun studi.

"Ketika mereka sampai Sleman dilakukan pengecekan dan ternyata hasilnya positif Covid-19, dan ternyata lagi sudah menulari keluarga dan lingkungan," katanya.

Joko Hastaryo mengatakan saat ini ruang isolasi di RS yang ada di Sleman ada sebanyak 117 ruang, dan sebanyak 105 sudah terisi sehingga dengan lonjakan kasus tersebut kebutuhan ruang isolasi juga melonjak.

"Di Asrama Haji total ada 160 ruang, tetapi 10 ruang untuk isolasi titipan tahanan kejaksaan, dua untuk tenaga medis sehingga masih ada 138 ruang untuk isolasi dan saat sudah terisi 20an," katanya.

(Antara/kid)

[Gambas:Video CNN]