Menyoal Tingginya Kematian Nakes Indonesia Akibat Covid-19

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 06:43 WIB
Jumlah riil kematian tenaga kesehatan akibat Covid-19 di Indonesia memang bukan yang terbanyak di dunia, secara persentase sendiri berada di urutan tiga dunia. Petugas medis menggunakan APD berupa pakaian hazmat dilengkapi kacamata, masker, dan sarung tangan untuk meminimalisasi risiko tertular Covid-19. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyoroti tingginya persentase kematian tenaga kesehatan (nakes) berbanding total kematian akibat virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Ketua terpilih IAKMI, Dedi Supratman menyebut Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi di dunia dengan persentase kematian 2,4 persen dari total 89 kematian nakes akibat Covid-19 per 13 Juli 2020 yang dihimpun Pandemic Talks. Dari perhitungan per 13 Juli tersebut, persentase kematian nakes akibat Covid-19 di Indonesia berada di bawah Rusia (4,7 persen) dan Mesir (2,8 persen).

"Jika kita lihat angka absolut memang angka kematian nakes di Indonesia tidak sebanyak yang di luar negeri. Tapi jika kita bandingkan dengan angka kematian total suatu negara dan kita ambil persentasenya, maka angka (tingkat) kematian Indonesia sangat tinggi," ujar Dedi kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/8) malam.


Data yang dihimpun Pandemic Talks itu bersumber dari Worldometer.info, Amnesty International, hingga Worldbank per 13 juli 2020.

Pandemic Talks adalah platform info & data #COVID19 Indonesia dari spektrum sains dan ekonomi sosial politik secara berkala lewat siaran audio digital (podcast).

"Saya ambil dari Pandemic Talks karena saya lihat mereka ambil dari berbagai sumber termasuk Amnesty International," kata Dedi.

Pemakaman jenazah kasus COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Minggu (26/4/2020). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 10-23 April 2020, tren pemakaman yang menggunakan prosedur tetap (protap) COVID-19 cenderung menurun, dimana sebelumnya mencapai 50 orang yang meninggal per hari kini 40-30 orang per hari. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.Pemakaman jenazah kasus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, 26 April 2020. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Indonesia Bukan Tertinggi

Dedi menjelaskan dari data Pandemic Talks itu, secara riil jumlah kematian nakes di negeri ini hanya ada di urutan sepuluh besar dunia. Rinciannya, jika diurut berdasarkan jumlah kematian nakes, Indonesia menempati posisi ke-9 dengan 89 kematian nakes per 13 Juli lalu.

Indonesia berturut-turut berada di bawah Rusia (545 kematian), Inggris (540 kematian), Amerika Serikat (507 kematian), Brazil (351 kematian), Mexico (248 kematian), Italia (188 kematian), Mesir (111 kematian) , dan Iran (91 kematian).

Sedangkan hingga 1 Agustus lalu, lanjut Dedi, IAKMI mencatat jumlah kematian nakes akibat Covid-19 total bertambah menjadi 153 kasus.

Dari jumlah tersebut, dokter sebagai kelompok nakes dengan jumlah kematian terbanyak mencapai 73 kasus kematian. Kemudian, disusul Perawat (55 kematian), dan lainnya.

"Ini baru sebagian data masuk, kita belum menghitung nakes lainnya, bisa jadi semakin besar persentasenya," ucap Dedi.

Infografis Istilah-istilah Corona Baru dari Menteri Terawan

Dedi pun berharap pemerintah mau melibatkan organisasi-organisasi profesi kesehatan dalam penanganan tingginya angka kematian nakes di Indonesia. Ia juga meminta agar dilakukan tes secara berkala kepada para tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi mereka.

Selain itu, menurutnya, penting pula untuk memberlakukan penerapan jam kerja untuk pelayanan, kunjungan pasien, maupun konsultasi. Sehingga, para tenaga kesehatan bisa memiliki waktu istirahat cukup.

"Kami pimpinan profesi dan asosiasi kesehatan bisa dilibatkan, sehingga hal-hal semacam ini bisa intensif kita bicarakan dengan Satgas/pemerintah, sehingga bisa lebih cepat dalam pengambilan kebijakan ke depan," katanya.

Dalam gelaran diskusi ILUNI UI pada Sabtu (1/8) pekan lalu, Dedi mengaku pihaknya telah menyurati Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) agar beraudiensi dengan para organisasi profesi kesehatan.

Organisasi profesi, kata dia, ingin dilibatkan bukan untuk tampil di depan melainkan hanya ingin membantu pemerintah dan diberi kepercayaan untuk ikut dalam penanganan Covid-19.

"Kemarin kami sudah bikin surat untuk presiden karena tahun lalu kami sudah menghadap, kami menghadap. Ini situasi makin parah kami lihat. Mudah-mudahan pak Presiden membuka pintu untuk bisa beraudiensi dengan kami kalangan kesehatan," ujar Dedi dalam diskusi pada akhir pekan lalu.

Indikator Masih Diabaikan

Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto mengatakan pemerintah hingga saat ini masih melupakan satu dari dua indikator penting dalam menangani pandemi Covid-19.

Slamet mengaku mengapresiasi upaya pemerintah yang kini tengah gencar melakukan pencegahan penyebaran. Namun, di sisi lain, katanya pemerintah juga perlu mencegah korban meninggal dunia.

Ia juga menyoroti transparansi pemerintah terkait angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia, terutama dengan belum dimasukkannya korban meninggal dunia dengan gejala suspek maupun probable.

Padahal, kata Slamet, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan untuk memasukkan angka tersebut pula.

"Yang sekarang dilakukan pemerintah kan pencegahan testing, ada satu yang dilupakan, indikator penanganan covid kan selain mencegah infeksi kedua adalah mencegah kematian. Nah pemerintah harus concern mencegah kematian baik tenaga kesehatan maupun masyarakat," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (3/8).

Berdasarkan informasi yang diterima dari Humas PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Halik Malik mengatakan setidaknya per 4 Agustus 2020 pihaknya mendapat laporan 74 dokter meninggal karena positif Covid-19 dan suspek.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan angka kematian akibat virus corona (Covid-19) di Indonesia masih tinggi dibandingkan rata-rata angka kematian global.

Ia mengatakan saat ini angka kematian di Indonesia sebesar 4,68 persen, sementara rata-rata angka kematian global adalah 3,79 persen.

"Sampai saat ini, angka kematian Indonesia per tanggal 3 Agustus, 4,68 persen dan ini bukan kabar menggembirakan karena masih diatas kematian global yaitu 3,79 persen," kata Wiku dalam keterangannya di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (4/8).

Meskipun masih di atas rata-rata global, Wiku mengatakan secara rata-rata angka kematian di Indonesia mengalami penurunan.

Soal angka kematian ini pun menjadi sorotan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat memimpin Rapat Terbatas pada Senin lalu. 

"Ini yang saya kira menjadi PR besar kita bersama," kata Jokowi  saat memberikan pengarahan dalam ratas tentang Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang disiarkan juga lewat akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (3/8).

Per 4 Agustus 2020, Satgas penanganan Covid-19 mendata jumlah kumulatif positif corona di Indonesia mencapai 115.056 kasus. Dari jumlah tersebut, 72.050 dinyatakan sembuh dan 5.388 orang meninggal dunia. Jumlah kematian itu sendiri bertambah 86 orang dari hari sebelumnya, 3 Agustus 2020.

Sementara itu di tingkat global, per 3 Agustus 2020, WHO mencatat jumlah positif Covid-19 secara kumulatif mencapai 17.918.582 kasus. Dari data tersebut terdapat angka kumulatif 686.703 kematian

[Gambas:Video CNN]

(thr, hrf, mln/kid)