Cerita Ahok saat Aksi 411: Tolak Evakuasi, Siap Mati di Rumah

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 12:11 WIB
Mantan Gubernur DKI Basuki T Purnama alias Ahok mengaku tak menyesal dengan rangkaian peristiwa kasus penodaan agama yang dialaminya. Ahok mengaku tak menyesal mengalami kasus penodaan agama. (Foto: CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menceritakan kembali peristiwa saat aksi demonstrasi pada 4 November 2016, atau yang lebih dikenal dengan Aksi 411. Saat itu, Ahok didemo terkait dengan pernyataannya soal Alquran surat Al-Maidah Ayat 51.

Saat demonstrasi itu berlangsung, Ahok mengaku diminta oleh aparat keamanan untuk mengungsi karena massa dikhawatirkan menyerbu rumahnya, namun saat itu, permintaan evekuasi itu ditolak Ahok dan keluarganya.

"Saya bilang sama mereka (aparat), saya enggak mau pergi. Dia bilang nanti bisa serbu masuk ke dalam rumah. 'Ya itukan tugas kalian menjaga di depan'. Kalau kalian takut ya tinggalin aja, saya bilang. Saya lebih baik mati di rumah satu keluarga," kata Ahok dikutip dari akun Youtubenya, Senin (10/8).


"Kalau sampai ada orang rencana mau bunuh saya pun, justru dibawa ke pulau tempat itu engak ada orang yang tahu lebih gampang bunuh saya," lanjutnya.

Saat peristiwa itu terjadi, Ahok mengaku masih bisa tidur dengan nyenyak di rumahnya.

"Makanya saya bilang, kalau saya bilang saya enggak takut, kamu bilang saya sombong. Tapi saya cuma mau bilang, saya bisa tidur dengan nyenyak," kata dia.

Infografis Gelombang Aksi Penolakan AhokFoto: CNN Indonesia/Astari Kusumawardhani

Demo 411, yang digelar pada 4 November 2016, itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian unjuk rasa memprotes ucapan Ahok yang menyinggung Al Maidah ayat 51 soal pemimpin non-muslim, di Kepulauan Seribu, 27 September 2016.

Hal itu dikatakannya dalam konteks menyinggung strategi politik lawan-lawannya yang kerap menggunakan isu agama untuk mengalahkannya.

[Gambas:Youtube]



Video rekaman pidatonya, yang diedit oleh Buni Yani, kemudian beredar di media sosial. Beberapa ormas Islam menggawangi aksi demonstrasi menuntut proses hukum terhadap Ahok.

Rangkaiannya dimulai oleh Aksi Bela Islam yang digawangi ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) di bawah pimpinan Rizieq Shihab, di depan Balai Kota Jakarta, 14 Oktober 2016.

GNPF MUI bersama FPI dan ormas Islam lainnya lalu menggelar Aksi Bela Islam jilid II pada 4 November 2016 atau yang dikenal dengan aksi 411, dan Aksi 2 Desember 2016 dan Aksi 21 Februari 2017, atau yang lebih dikenal sebagai Aksi 212.

Aksi yang rata-rata diikuti ratusan ribu massa per gelarannya ini dilakukan berjilid-jilid bahkan hingga gelarannya bertajuk reuni.

Infografis Kasus Penistaan Agama Ahok dalam AngkaFoto: CNN Indonesia/Laudy Gracivia

Ahok sendiri kemudian ditetapkan jadi tersangka empat hari setelah aksi 411. Ia selanjutnya divonis dua tahun penjara setelah terbukti bersalah melanggar Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama dan menjalani masa tahanan 2 tahun penjara.

Kini, ia mengaku tidak menyesal terhadap peristiwa yang menimpanya itu.

"Itu juga ditanya wartawan, udah disidang masuk penjara nyesal enggak? Kalau diputar balik, aku enggak pernah menyesal. Karena aku berdiri untuk kebenaran, keadilan, dan peri kemanusiaan, saya berdiri untuk itu," ujar Ahok.

"Kecuali saya salah. Kita salah saja enggak boleh nyesalin yang udah lewat. Apalagi kita yakin enggak salah. Apalagi keputusan yang saya ambil berdasar keyakinan saya," lanjut dia.

(yoa/arh)

[Gambas:Video CNN]