Obat Corona Unair-TNI-BIN Diklaim Lewati Uji Klinis Fase 3

CNN Indonesia | Minggu, 16/08/2020 00:40 WIB
KSAD Jenderal Andika Perkasa menyebut kombinasi obat corona temuan Unair, BIN, TNI AD sudah lama dikembangkan, yakni sejak Maret lalu. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang juga Wakil Ketua Pelaksana I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Jenderal Andika Perkasa menggelar pertemuan dengan stakeholder guna persiapan sosialisasi hasil uji klinis fase 3 kombinasi obat virus corona (Covid-19).

Dalam pertemuan tersebut, Andhika menyatakan kombinasi obat Covid-19 itu dikembangkan Universitas Airlangga, TNI AD dan BIN (Badan Intelejen Negara) dan diklaim tengah memasuki tahap akhir.

"Pencapaian hingga pada titik ditemukannya kombinasi obat yang baru ini telah berproses panjang sejak bulan Maret 2020, serta sudah melalui tahapan uji klinis sebagaimana dipersyaratkan," ujar Andhika dalam keterangannya, Sabtu (15/8).


Sebagai catatan, hingga saat ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan satu pun obat untuk mencegah atau mengobati corona. Obat dari gabungan TNI-BIN-Unair ini juga belum mendapatkan izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Selain itu, tim Unair-TNI-BIN pun belum mengungkapkan secara rinci hasil serta metoda uji klinis.

Andika mengklaim pihaknya telah membandingkan kemampuan dan keamanan kombinasi obat tersebut dengan obat standar pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit tanpa ventilator.

Dalam pertemuan itu, Andika didampingi Wakil Ketua Pelaksana II Komite PCPEN, Komjen Gatot Eddy Pramono, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid, Rektor UNAIR Mohammad Nasih, Sestama BIN Komjen Bambang Sunar Wibowo, Direktur Kimia Farma, dan Perwakilan BPOM.

Sementara itu, Gatot berharap, kombinasi obat ini mampu menghemat biaya perawatan, mendorong ekonomi bergulir kembali, serta yang utama menurunkan kepanikan dan kecemasan masyarakat.

"Sehingga muncul optimisme dan kepercayaan masyarakat bahwa bangsa Indonesia bangkit dan berproses pulih dari Covid-19," pungkas Gatot.

Vaksin pada 2021

Hari ini Ketua Komite PCPEN Erick Thohir juga mengklaim program imunisasi massal virus corona bisa dilakukan awal 2021 mendatang. Sembari menunggu program tersebut, ia mengatakan pemerintah akan tetap menjaga masyarakat supaya tetap sehat dan produktif.

Upaya itu akan dilakukan dengan menggelontorkan bantuan ke masyarakat termiskin, mikro dan UMKM. Bantuan tersebut diberikan dengan menggelontorkan bantuan sosial dan kredit kepada mereka.

"Setelah ini berjalan tetap kami menggerakkan stimulus ekonomi dan penemuan vaksin yang nantinya diharapkan awal tahun depan imunisasi massal," katanya dalam sebuah diskusi yang dilakukan di Jakarta, Sabtu (15/8).

Saat ini Bio Farma dengan bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran telah memulai uji klinis fase tiga vaksin Sinovac dengan melibatkan lebih dari 1.600 relawan.

Dihubungi secara terpisah, Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo turut mengingatkan semua pihak, untuk tidak terlalu bereuforia atau berharap penuh terhadap vaksin Sinovac yang sudah uji klinis fase III.

"Karena tidak ada jaminan bahwa uji klinis fase III akan berhasil membuktikan efek proteksi. Semua peneliti yang terlibat dalam uji klinis tidak ada yang berani menjamin," kata Ahmad.

Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra juga mengingatkan agar masyarakat tidak melonggarkan protokol kesehatan, sebelum vaksin benar-benar ada.

"Sebagai masyarakat tentu saja tidak boleh terlalu over-confidence vaksin akan ada pada awal Januari 2021. Tetapi kita juga tetap berharap optimis, sadar dan sabar dalam perilaku hidup sehat," sambungnya.

(thr/osc)

[Gambas:Video CNN]