Polisi Buang Tembakan saat Dikepung, 1 Warga Makassar Tewas

CNN Indonesia | Senin, 31/08/2020 08:58 WIB
Tiga pemuda di Makassar diduga ditembak anggota polisi yang dikeroyok warga. Dalam peristiwa itu, satu orang tewas dan dua orang luka-luka. Tiga pemuda di Makassar, Sulawesi Selatan, diduga ditembak polisi yang sedang mengusut kasus pengeroyokan. Ilustrasi (Istockphoto/ Ipopba)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tiga pemuda di Kota Makassar, Sulawesi Selatan diduga ditembak polisi yang sedang mengusut kasus pengeroyokan, Minggu (30/8) dini hari. Ketiga korban adalah Anjas (23), Ammar (18), dan Iqbal (22).

Ammar dan Iqbal mengalami luka di bagian kaki dan menjalani perawatan di RS Bhayangkara. Sementara, Anjas dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan hingga pukul 15.40 Wita.

Anjas meninggal setelah mendapat luka di bagian kepala. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Anjas tak pernah sadarkan diri setelah tertembak.


Ia mendapat perawatan selama kurang lebih 15 jam dan sempat dipindahkan ke ruang ICU.

Kapolres Pelabuhan, Ajun Komisaris Besar Kadarislam menjelaskan kejadian itu bermula saat salah seorang anggota polisi, Brigadir Kepala Usman menyelidiki lokasi kasus pengeroyokan di Jalan Barukang.

Bripka Usman pergi ke lokasi tersebut dengan salah seorang informan dan mencari terduga pelaku yang bernama Namus. Usman pun menanyai sejumlah pemuda yang berada di sekitar lokasi.

"Ternyata mereka (warga yang berkumpul) mabuk-mabukan. Anggota bertanya di mana rumah Namus. Ada perlawanan warga yang berkumpul ini dan bertanya balik untuk memperlihatkan Kartu tanda anggota untuk memastikan yang bersangkutan betul polisi atau bukan. Saat itulah anggota ini dipukul dari belakang dan dikeroyok," kata Kadarislam.

Kadarislam menyebut saat kejadian salah seorang warga berteriak 'pencuri'. Teriakan itu lantas memicu kedatangan warga lainnya sehingga menyulitkan Usman untuk melarikan diri lantaran telah terkepung.

Saat mengetahui kejadian, Tim Respon Sabhara Polres Pelabuhan mendatangi TKP untuk menyelamatkan Usman. Kepolisian pun menembakkan gas air mata sehingga membuat massa membubarkan diri.


Setelah kejadian tersebut, kata Kadarislam, Usman kembali ke lokasi pengeroyokan untuk mencari motornya yang tertinggal tetapi motor tersebut tak ada. Di lokasi, Usman bertemu lagi dengan orang-orang yang semula menyerangnya.

Usman pun kembali terdesak di antara orang-orang tersebut. Untuk melarikan diri dari kejaran, ia lantas mengeluarkan tembakan peringatan ke atas.

"Tapi massa masih maju sehingga dia menembak ke bawah. Saat itulah kayaknya sampai ada yang tertembak di kaki. Adapun yang korban luka di bagian kepala, kemungkinan sementara karena tembakan gas air mata. Tapi kami masih dalami semua,"  ujarnya.

Ketua RW 4, Kelurahan Pattingngaloan, Kecamatan Ujung Tanah, Nuraini (52) mengatakan suara tembakan terdengar lantang di sekitar lokasi tersebut. Namun, ia tak mengetahui insiden yang mengawali suara tembakan tersebut pada dini hari kemarin.

"Anak saya bilang memang suara tembakan itu. Saya lalu keluar rumah dan menemui ada tiga anak terluka. Lalu dibawa ke RS Jala Ammari TNI AL tapi katanya tidak ada yang bisa operasi akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara," kata Nuraini.

Nuraini menyebut korban sempat diminta biaya saat di RS Bhayangkara. Menurutnya, korban yang menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) pun tak bisa. Tak lama kemudian ada polisi memberi uang Rp2 juta untuk pengobatan.

"Anjas baru saja meninggal dunia. Keluarga dan warga sebagian ada di RS Bhayangkara dan sebagian lagi di Mapolsek Ujung Tanah berunjuk rasa. Tapi yang berunjuk rasa di Mapolsek sudah bubar dan menuju ke rumah duka menunggu kedatangan jenazah," kata Nuraini.

(mjo/fra)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK