BIN Bantah Punya Pasukan Tempur, Hanya Kepelatihan Intelijen

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 09:36 WIB
BIN menyebut pasukan khusus Rajawali hanya siswa pendidikan intelijen khusus, bukan pasukan tersendiri seperti yang menjadi polemik sejumlah pihak. Pasukan khusus Rajawali BIN. (Foto: Screenshot via Instagram/@bambang.soesatyo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Intelijen Negara (BIN) mengklaim tak memiliki pasukan bersenjata tersendiri. Pasukan khusus Rajawali yang menuai polemik itu hanya merupakan siswa kepelatihan intelijen khusus yang nantinya terjun secara personal.

Sebelumnya, Ketua MPR Bambang Soesatyo mengunggah video Inaugurasi Peningkatan Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Plaza STIN, Sentul, Kabupaten Bogor, pada akun Instagram pribadinya, Rabu (9/9).

Dalam video, tampak pasukan dengan seragam khusus dan bersenjata laras panjang. Mereka disebut sebagai pasukan khusus Rajawali.


Hal tersebut memicu polemik soal keberadaan pasukan khusus di BIN. Sebab, tak ada Undang-undang yang mengatur bahwa BIN bisa membentuk pasukan khusus bersenjata.

Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto mengatakan pasukan khusus rajawali adalah sebuah kode sandi dari Pendidikan Intelijen Khusus (Dikintelsus) yang menjadi rangkaian acara dalam Inaugurasi Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan Peresmian Patung Bung Karno Inisiator STIN.

Ia menuturkan penutupan Dikintelsus selalu diwarnai dengan atraksi keterampilan, baik bela diri, IT, bahan peledak, atau keterampilan senjata, serta simulasi penumpasan ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) lainnya.

"Ini bukan pasukan (unit) tersendiri namun Kepelatihan Intelijen Khusus yang diberikan kepada personel BIN yang bertugas di lapangan (bersama TNI, Polri), agar memahami tentang tugas dan dinamika di lapangan, antara lain Intelijen Tempur, Taktik dan Teknik Intelijen di medan hutan/perkotaan dll, serta peningkatan kapabilitas SDM," kata Wawan dalam keterangan resminya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/9).

Wawan berujar pelatihan tersebut dilaksanakan antara lain berdasarkan evaluasi terhadap hasil Operasi Satgas di wilayah konflik, di mana personel BIN di Papua ada yang telah gugur dan terluka.

Pendidikan ini, kata dia, ditujukan untuk mengasah kemampuan dalam mengatasi tugas khusus yang berat dan medan sulit. Setelah selesai pendidikan, terang Wawan, mereka diterjunkan untuk tugas klandestin di berbagai sasaran yang menjadi titik ATHG. Baik seorang diri ataupun bekerja dengan tim kecil (Satgas).

"Dikintelsus ini bukan dibentuk menjadi sebuah pasukan tetapi akan terjun secara personal/mandiri di wilayah tugas. Jadi, ini bukan pasukan tempur, meskipun latihannya adalah latihan para komando," tuturnya.

Ia menerangkan bahwa diklat seperti itu biasa dilakukan BIN dengan tujuan menciptakan insan intelijen yang tangguh guna melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, serta menjaga keselamatan rakyat Indonesia.

Setelah selesai pendidikan, kata dia, mereka akan kembali ke unit tugas masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsinya.

"Jadi, tidak ada pasukan di BIN. Penamaan Pasukan Khusus Rajawali adalah kode sandi pendidikan yang selalu berubah kodenya di setiap jenis pendidikan," tandasnya.

Senada, Bambang Soesatyo, yang mengunggah video Pasukan Rajawali itu, menegaskan bahwa BIN tak memiliki pasukan khusus.

"Tidak ada pasukan khusus BIN seperti yang diributkan. Video yang saya unggah di akun Instagram saya itu adalah demonstrasi para taruna-taruni Sekolah Tinggi Intelejen Negata (STIN)," kata politikus yang akrab disapa Bamsoet ini, dalam keterangan resminya, Selasa (15/9).

Infografis Atlas Badan Intelijen di IndonesiaFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Taruna-taruni STIN itu, kata dia, baru saja selesai dalam menempuh pendidikan. Mereka lantas melakukan demonstrasi pelbagai kemahiran dan keahlian khususnya selama mengikuti pendidikan.

Karena itu, para taruna-taruni itu menamakan dirinya Pasukan Khusus Rajawali. Nama Rajawali itu, kata dia, hanya ada di dalam acara seremoni Inaugurasi Peningkatan Statuta STIN dan Peresmian Patung Bung Karno di STIN tersebut.

"Saya mendukung penuh prestasi para taruna-taruni STIN seperti yang dipertunjukkan mereka secara luar biasa dihadapan saya dan para undangan Khusus lainnya sebagai bentuk prestasi pencapaian puncak pendidikan mereka selama di STIN," kata Bamsoet.

Bamsoet mengakui taruna-taruni STIN dibekali berbagai kemahiran menggunakan berbagai jenis senjata laras pendek dan laras panjang. Tak hanya itu, mereka juga dibekali kemahiran menjinakan bom, membebaskan sandera, terjun dari atas gedung memakai tali, memperagakan kemahiran bela diri tangan kosong dan lainnya.

Ia menyatakan taruna-taruni lulusan STIN itu bisa sewaktu-waktu dipergunakan di dalam operasi khusus oleh Kementerian Pertahanan RI dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sesuai dengan amanat undang-undang.

"Demo ketangkasan yang ditunjukan para taruna-tarini STIN kemarin sangat membanggakan. Dan itu menunjukan SDM intelejen kita tidak kalah dengan kehebatan 10 intelejen terbaik dunia seperti CIA (Amerika) M16 (Inggris), GRU (Rusia), DGSE (Prancis), ISI (Pakistan), BND (Jerman), Mossad (Israel), R&AW (India), ASIS (Australia), CSIS (Kanada) dan badan intelejen dunia lainnya," kata Bamsoet.

Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menyebut BIN tak seharusnya memiliki pasukan khusus. Apabila pasukan khusus Rajawali itu memang ada, BIN telah melampaui kewenangannya berdasarkan undang-undang.

Pengamat militer Institute For Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi juga menyebut pembentukan pasukan bersenjata oleh BIN bak mempersenjatai angkatan kelima. Pasalnya, hanya TNI dan Polri yang diizinkan membentuk pasukan bersenjata.

(ryn/rzr/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK