Pilkada Medan, Panggung Duel Dua Nasution

CNN Indonesia | Rabu, 23/09/2020 13:59 WIB
Bobby Nasution dan Akhyar Nasution ditetapkan sebagai calon wali kota Medan oleh KPU usai dinyatakan memenuhi syarat. Bobby Nasution dan Akhyar Nasution akan bertarung di Pilkada Kota Medan 2020 (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan/Farid)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan menetapkan Bobby Nasution-Aulia Rachman sebagai pasangan calon di pilkada. Akhyar Nasution-Salman Alfarisi juga ditetapkan KPU setelah dinyatakan memenuhi syarat.

Pasangan Bobby-Aulia diusung oleh koalisi besar partai politik yakni PDI Perjuangan, Partai Gerindra, PAN, Golkar, NasDem, PSI, Hanura dan PPP. Bila di total, koalisi partai pengusung Bobby-Aulia memiliki 39 kursi di DPRD Kota Medan.

Bobby sendiri dikenal sebagai menantu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pria kelahiran 5 Juli 1991 itu adalah suami dari anak kedua Jokowi, Kahiyang Ayu. Sementara, Ayah Bobby merupakan mantan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (Persero) IV, Erwin Nasution.


Bobby dikenal sebagai pebisnis di bidang properti. Ia memiliki perusahaan properti PT Wirasena Citra Reswara. Bobby juga pernah menjadi manajer di klub Medan Jaya.

Pasangan Bobby, yakni Aulia Rachman adalah politikus Partai Gerindra. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Kota Medan setelah terpilih pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Pria kelahiran Medan, 19 Januari 1978 itu kini masih menjabat sebagai Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Medan Deli periode 2017 - 2022.

Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution mengaku tak tertarik menjadi pengurus PSSI, di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/6).Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution resmi menjadi calon wali kota dan akan bertarung di Pilkada Kota Medan 2020 (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Pasangan Akhyar-Salman

Pasangan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi hanya didukung oleh koalisi dua partai politik yakni Demokrat dan PKS untuk menghadapi Bobby-Aulia di Pilwalkot Medan.

Akhyar masih menjabat sebagai pelaksana tugas wali kota Medan. Akhyar mulanya adalah kader PDIP. Namun, Ia memilih untuk pindah ke Demokrat setelah PDIP memilih mengusung Bobby Nasution. Belakangan, PDIP memutuskan memecat Akhyar dari keanggotaan partai.

Akhyar sendiri dikenal sebagai politikus lokal di Kota Medan. Kariernya di dunia politik dimulai saat menjabat sebagai anggota DPRD Kota Medan periode 1999-2004.

Ia kemudian berhasil memenangkan Pilwalkot Medan tahun 2015 sebagai wakil wali kota mendampingi Dzulmi Eldin sebagai wali kota. Pada 17 Oktober 2019, Akhyar menjadi pelaksana tugas wali kota Medan karena Dzulmi ditahan KPK karena dugaan kasus korupsi.

Sementara pendampingnya, Salman Alfarisi dikenal sebagai politikus PKS. Salman pernah menjadi anggota DPRD Kota Medan periode 2009-2019. Di Pemilu 2019 lalu, Salman mengikuti Pemilu legislatif tingkat Provinsi Sumatera Utara dan berhasil terpilih. Bahkan, Ia sempat menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Utara sebelum mengundurkan diri untuk maju dalam pencalonan Pilwalkot Medan 2020.

Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution (kacamata).Akhyar Nasution (kanan) dipecat PDIP sebagai kader pindah ke partai Demokrat demi mengikuti Pilkada Kota Medan 2020 (CNN Indonesia/ Farida)

Profil Kota Medan

Medan adalah ibu kota Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kota Medan memiliki luas 26.510 hektare (265,10 km²) atau 3,6 persen dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.

Jumlah penduduk Kota Medan mencapai 2.478.145 jiwa (2017). Mayoritas penduduknya beragama Islam (64,53 persen), disusul Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Medan pada 2019 mencapai Rp1.408 triliun. Sementara pada Tahun 2018 PAD Kota Medan tercatat hanya Rp1,316 triliun.

Kasus korupsi kerap terjadi di lingkungan Pemkot Medan. Mantan Wali Kota Medan Rahudman Harahap divonis 10 tahun penjara pada Februari 2017 akibat kasus pengubahan status tanah seluas 7 hektare yang merugikan lebih dari Rp185 miliar.

Mantan Wali Kota Medan Abdillah juga pernah dihukum akibat kasus korupsi. Hakim menjatuhkan hukuman terhadap Abdillah selama 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan.

Kasus pertama, Abdillah terbukti melakukan pengadaan mobil pemadam kebakaran tanpa proses lelang. Sementara pada kasus kedua Abdillah terbukti dalam penyalahgunaan APBD Pemko Medan selama 2002-2006 sebesar Rp50,58 miliar.

Kemudian kasus Eks Wali Kota Medan Dzulmi Eldin terkait penerimaan hadiah atau janji berupa uang dari para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) / Pejabat Eselon II Pemko Medan dengan total Rp2,155 miliar.

Eldin divonis 6 tahun penjara, denda Rp500 juta, subsider 4 bulan kurungan. Selain itu, Dzulmi Eldin juga dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan hak politik untuk dipilih dalam jabatan publik selama 4 tahun setelah terdakwa menjalani pidana pokok.

Peta Politik Medan

Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh suara terbanyak dibanding Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Kota Medan. Prabowo-Sandiaga meraup 645.209 suara. Sedangkan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin mendapatkan 542.221 suara.

Di DPRD Kota Medan, PDIP dan Gerindra memiliki 10 kursi. Terbanyak di antara yang lain. Diikuti PKS dengan 7 kursi, PAN 6 kursi, Golkar, Demokrat dan Nasdem 4 kursi, PSI dan Hanura 2 kursi dan PPP 1 kursi.

(rzr/fnr/bmw)

[Gambas:Video CNN]