September, Rekor Infeksi Corona Indonesia Cetak 'Hat-trick'

CNN Indonesia | Sabtu, 26/09/2020 08:10 WIB
Ibarat tiga gol berturut-turut dalam permainan sepak bola, rekor penambahan kasus corona di Indonesia pun cetak hat-trick di bulan September. Petugas kesehatan di salah satu rumah sakit di Bogor, Jawa Barat, tetap menjalankan ibadah di tengah kesibukannya merawat pasien virus corona. (AFP/ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ibarat tiga gol berturut-turut dalam permainan sepak bola, rekor penambahan kasus corona di Indonesia pun cetak hat-trick. Selama tiga hari berturut-turut yakni pada Rabu (23/9), Kamis (24/9), dan Jumat (25/9), penambahan jumlah kasus tercatat paling tinggi sejak kemunculan kasus pertama pada Maret 2020 lalu.

Pada Rabu (23/9), jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 257.388 atau ada penambahan sebanyak 4.465 kasus dari hari sebelumnya.

Kemudian pada Kamis (24/9), tercatat ada penambahan kasus dari hari sebelumnya sebanyak 4.634 kasus sehingga jumlah kasus kumulatif menjadi 262.022 kasus.


Rekor berikutnya menyusul di hari berikutnya, Jumat (25/9) dengan penambahan 4.823 kasus sehingga jumlah kasus kumulatif terakhir tercatat sebanyak 266.845 kasus.

Peningkatan kasus yang cukup besar dari hari ke hari rupanya ditanggapi oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

DKI Jakarta yang sehari-hari menyumbang kasus positif corona tertinggi memperpanjang masa PSBB hingga 14 Oktober 2020 mendatang.

Sedangkan pemerintah pusat memfokuskan penekanan laju kasus di 9 provinsi.

Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut B. Panjaitan dan Kepala BNPB Doni Monardo untuk fokus pada provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Bali, dan Papua.

Pada Rabu (23/9), Luhut berkata sudah ada formula penanganan pandemi dan sudah mulai pada tahap implementasi.

Dalam acara Mata Najwa, Luhut optimistis formula ini bakal menunjukkan hasil dalam sepekan hingga 10 hari mendatang.

"Kita sudah ketemu bentuknya (formula penanganan) dan sudah mulai kerjakan. Dalam satu minggu atau 10 hari ke depan akan kelihatan hasilnya," kata Luhut dalam siaran langsung stasiun televisi Trans 7.

Sedangkan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto cukup menggerakkan orang untuk senantiasa patuh pada protokol kesehatan.

Ia mendorong masyarakat untuk menganggap semua orang adalah positif corona sehingga ada kesadaran untuk mengenakan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak.

Sementara itu bicara soal vaksin, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat menyebut bahwa distribusi vaksin belum bisa dilakukan hingga pertengahan 2021.

Namun baik Satgas Covid-19 maupun Bio Farma optimistis vaksin corona bakal tersedia buat Indonesia di 2021.

"Terkait itu, kita tetap optimis diatas 90 persen berhasil, kalau tidak nanti kita terjebak di pandemi terus. Memang kita nanti harus lihat hasilnya dulu, mudah-mudahan akhir Januari 2021 sudah kelihatan," kata Corporate Secretary Bio Farma Bambang Heriyanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (5/9).

Bukan kaleng-kaleng, pernyataan ini pun diamini oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Distribusi ditargetkan mulai akhir tahun ini atau awal 2021. Di tahap awal, distribusi sebanyak 1,3 juta vaksin difokuskan untuk tenaga medis.

Hanya saja, epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman mengatakan vaksin dan obat tidak bisa diandalkan jadi senjata utama untuk berperang melawan pandemi.

"Harus dipahami dalam strategi pengendalian pandemi, belum ada pandemi yang selesai dengan vaksin atau obat," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/9).

Menurutnya, justru vaksin dan obat adalah pelengkap. Strategi utama yang harus diprioritaskan sebaiknya pengetesan, pelacakan, isolasi dan karantina.

Senada dengan Dicky, epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan perlu langkah pengawasan atau surveilans dengan pendekatan 3T (testing, tracing, treatment) dan isolasi.

"Enggak usah urusin vaksin atau obat, obat vaksin lupakan. Kesehatan publik saja lewat pelacakan," kata Pandu.

(els/ard)

[Gambas:Video CNN]