SUARA ARUS BAWAH

Suara Warga Jabar soal Wacana Ganti Nama Jadi Provinsi Sunda

CNN Indonesia | Kamis, 15/10/2020 08:08 WIB
Wacana penggantian nama Jawa Barat jadi Provinsi Sunda mengemuka. Warga menyikapi beragam, ada yang setuju, tidak peduli, ada pua yang mempertanyakan. Gedung Sate, pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat saat ini. (CNN Indonesia/Melani Putri)
Bandung, CNN Indonesia --

Provinsi Jawa Barat diwacanakan berganti menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda. Gagasan mewacanakan perubahan nama provinsi tersebut muncul dari sebuah diskusi "Dialog Aspirasi Pengembalian Nama Provinsi Jawa Barat Menjadi Provinsi Sunda" yang diadakan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (12/10).

Dalam diskusi tersebut, anggota DPD perwakilan Jabar, Eni Sumarni mempersoalkan sejarah masa lampau dalam wacana nama Provinsi Jawa Barat diganti Sunda.

"Nama Sunda dari dulu ada di peta dunia, saya khawatir bila nama ini tidak digunakan, Sunda bisa tergerus dan semakin menghilang. Kita dukung para tokoh Sunda yang ingin mengembalikan nama Sunda ke provinsi," kata dalam diskusi tersebut.


Sementara itu Ketua SC Kongres Sunda Andri Perkasa Kantaprawira mengaku akan menyurati Presiden Joko Widodo terkait penggantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda.

"Gubernur Jawa Barat sudah disurati oleh kang Adji Esha (ketua perubahan nama), tetapi jawabannya meminta survei dulu. (penggantian nama) ini kan bukan soal popularitas, ini bukan pemilu. Kita akan lompati saja, nanti kita surati saja presiden," ujar Andri.

CNNIndonesia.com bertanya pada sejumlah warga Jabar terkait wacana perubahan nama Provinsi Jabar jadi Sunda ini. 

Celio Ilham Pratama (22 tahun), mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bandung ini menilai aneh wacana tersebut. Pasalnya tak semua Jawa Barat dihuni oleh suku bangsa Sunda. Karena itu Celio tetap memilih Jawa Barat untuk nama provinsi.

"Jawa Barat itu enggak semuanya Sunda. Memang ada kurikulum Sunda di Jawa Barat, tapi kayak di Kuningan atau daerah Pantura kan enggak full Sunda. Apalagi yang perbatasan Jawa Tengah, campur banget bahasanya," kata Celio saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (14/10).

Celio Ilham Pratama (22), mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bandung ini tetap memilih nama Provinsi Jawa Barat.Celio Ilham Pratama (22), mahasiswa perguruan tinggi swasta di Bandung ini tetap memilih nama Provinsi Jawa Barat. (CNN Indonesia/ Huyogo)

Nama Jawa Barat sudah kadung melekat pada ingatan masyarakat karena sudah berdiri sejak lama. Berbeda dengan nama Provinsi Banten, hasil pemekaran dari Jawa Barat, yang baru berdiri pada tahun 2000.

"Menurut saya jangan buru-buru soalnya itu nama yang sudah bertahun-tahun. Jawa Barat kan sudah terdengar lama," tuturnya.

Warga Bandung lainnya, Putri Wulan Dewi (27 tahun) juga mencemaskan usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat. Ia masih ragu atas usulan perubahan nama tersebut karena belum jelas tujuannya.

"Yang mengadakan kongres itu untuk apa, ke arah mana? Terus, kalau diganti ke depannya mau dibikin apa? Saya sendiri masih samar ngedengar nama provinsinya jadi Provinsi Sunda atau Provinsi Tatar Sunda," ucap perempuan yang bekerja sebagai barista di kawasan Titiran itu.

Putri Wulan Dewi (27) mencemaskan usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat. Ia masih ragu atas usulan perubahan nama tersebut karena belum jelas tujuannya.Putri Wulan Dewi (27) mencemaskan usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat. Ia masih ragu atas usulan perubahan nama tersebut karena belum jelas tujuannya. Foto: CNN Indonesia/ Huyogo

Menurut Putri, usulan mengubah Provinsi Jawa Barat jadi Sunda adalah sah-sah saja. Setiap orang boleh menyampaikan pendapat di tempat umum

"Tapi kalau mau ngomongin Sunda, Jawa Barat juga sudah mewakili tanah Sunda. Saya sih enggak masalah mau nama Jawa Barat. Di Ciamis atau orang Garut ya disebutnya asal Jawa Barat. Sudah otomatis kalau dia tahu dari Jawa Barat pasti ngomong Sunda," ujarnya.

Menurut Putri, hal yang lebih penting saat ini adalah bagaimana caranya mengaktualisasikan diri sebagai orang Sunda. Sebagaimana para leluhur selalu berpesan untuk tetap someah atau ramah kepada siapapun.

"Jadi balik lagi ke personal, orang Sunda itu sudah identik dengan someah. Kalau bertemu orang harus ramah, apalagi orang yang sudah lama tinggal di Jawa Barat juga sudah tahu bahasa Sunda," ucapnya.

Sementara itu, Kurniawati (45 tahun), pedagang nasi di kawasan Gasibu mengaku setuju dengan usulan Kongres Sunda. Menurutnya, perubahan nama akan menunjukkan identitas suku Sunda.

"Saya sih setuju aja. Sekarang kan kebudayaan Sunda sudah makin menghilang, coba lihat sesama kita di lingkungan rumah. Rata-rata kan individualis," ujarnya.

Kurniawati (45), pedagang nasi di kawasan Gasibu mengaku setuju dengan usulan Kongres Sunda.Kurniawati (45), pedagang nasi di kawasan Gasibu mengaku setuju dengan usulan Kongres Sunda. (CNN Indonesia/ Huyogo)

Kuniawati berharap, perubahan nama provinsi membawa kecintaan pada budaya dan bahasa Sunda.

"Sekarang ini kan orang sudah agak masing-masing (tidak peduli). Jadi, saya sih setuju aja (diganti)," katanya.

Ditemui terpisah, Herianto (38 tahun) pedagang minuman di kawasan Titimplik mengaku tidak peduli dengan usulan perubahan nama provinsi.

"Gimana ya, yang penting sejahtera rakyat Indonesia-nya. Gak ngaruh (diganti) yang penting makan sehari-hari (terpenuhi) usaha lancar," katanya.

Herianto (38) pedagang minuman di kawasan Titimplik mengaku tidak peduli dengan usulan perubahan nama provinsi Jawa Barat.Herianto (38) pedagang minuman di kawasan Titimplik mengaku tidak peduli dengan usulan perubahan nama provinsi Jawa Barat. (CNN Indonesia/ Huyogo)

Herianto yang berasal dari Ciamis mengaku tidak mempersoalkan usulan nama provinsi jadi Provinsi Sunda atau Provinsi Sunda. Berubah atau tidak, ia hanya berharap pemerintah menyejahterakan rakyatnya.

"Yang penting mah tatanan kehidupan masyarakatnya sajalah yang dipenuhi, seperti perekonomiannya. Sekarang saja kan lagi susah. Saya enggak sempat mikirin ganti nama provinsi," kata Herianto.

(hyg/sur)

[Gambas:Video CNN]