Kemendikbud: 12 Ribu Sekolah Tak Punya Akses Internet

CNN Indonesia | Kamis, 22/10/2020 12:52 WIB
Selain 12 ribu sekolah yang tak memiliki akses internet, Kemendikbud juga mencatat sebanyak 48 ribu sekolah memilik jaringan internet yang buruk. Ilustrasi. Kemendikbud mengungkap masih ada 12 ribu sekolah yang tak memiliki akses internet. Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkap masih ada 12 ribu sekolah yang tak memiliki akses internet di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T). Juga ada 48 ribu sekolah dengan jaringan internet yang buruk di penjuru daerah.

"Dapodik (Data Pokok Pendidikan) menyatakan 12 ribu sekolah kita belum punya akses internet, dan kita lihat keseluruhan di daerah 3T. Dan 48 ribu satuan pendidikan punya problem jaringan yang tidak baik, ada tapi tidak baik dan kuat. Ini mayoritas di daerah 3T," kata Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Praptono melalui konferensi video, Kamis (22/10).

Berkaca pada hal tersebut, ia mewajarkan masih ada sebagian guru yang menilai pembelajaran sebaiknya dilakukan tatap muka atau dikombinasi dengan pembelajaran daring.


Ia pun menyampaikan Kemendikbud sudah membuka kemungkinan pembelajaran tatap muka untuk sekolah di zona hijau dan kuning. Dengan catatan dilakukan dengan persiapan dan protokol kesehatan yang ketat.

Sehingga ketika pembelajaran daring tidak menutupi proses belajar sepenuhnya, sekolah bisa sesekali melakukan pembelajaran tatap muka dengan mematuhi syarat yang ditetapkan pemerintah.

Praptono mengaku memahami mayoritas guru yang masih mengkhawatirkan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi. Untuk itu ia menekankan sekolah baru bisa dibuka jika disetujui pemerintah daerah, komite sekolah, dan orang tua.

"Kehati-hatian yang ditetapkan Kemdikbud ini seiring, sejalan dengan kekhawatiran yang dimiliki para guru," lanjutnya.

Survei yang dilakukan Wahana Visi Indonesia menemukan hanya 5 persen dari 27.046 responden guru yang setuju pembelajaran di tengah pandemi dilakukan tatap muka.

Sedangkan 45 persen lainnya lebih setuju pembelajaran dikombinasi jarak jauh dengan tatap muka, 38 persen setuju belajar sepenuhnya daring, dan 12 persen setuju pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan luring.

Masalah kepemilikan gawai, jaringan internet dan kapasitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) masih jadi kendala utama dalam jalannya pembelajaran daring.

Dan bagi sekolah yang menjalankan pembelajaran luring, kendala geografis seringkali menghalangi guru yang ingin melakukan kunjungan ke rumah dan mengantar tugas, khususnya di daerah 3T.

Guru di daerah 3T kebanyakan mengaku membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah terkait pembelajaran di tengah pandemi. Sebanyak 31 persen guru di daerah 3T masih membutuhkan kompetensi terkait penerapan kurikulum selama PJJ.

Sebanyak 48 persen guru di daerah 3T juga kesulitan mensosialisasikan edukasi kesehatan sehingga membutuhkan bantuan media untuk sosialisasi. Dan 54 persen guru di daerah 3T kurang memiliki kompetensi dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Berdasarkan penemuan tersebut, survei merekomendasikan pemerintah memberi perhatian khusus pada sekolah di daerah 3T. Beberapa upayanya dengan pengadaan guru, akselerasi listrik dan internet, memberi bantuan materi ajar, dan peninjauan penggunaan dana BOS.

(fey/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK