Meneladani Nabi Muhammad dalam Menghadapi Pandemi

Satgas Covid-19 & ayo, CNN Indonesia | Minggu, 25/10/2020 13:17 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH. Nasaruddin Umar menyebut cara Nabi Muhammad kala menghadapi virus penyakit patut ditiru dalam menghadapi pandemi. Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH. Nasaruddin Umar menyebut cara Nabi Muhammad kala menghadapi virus penyakit patut ditiru dalam menghadapi pandemi. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta KH. Nasaruddin Umar menyebutkan semasa hidup Nabi Muhammad pernah menerapkan protokol ketika menghadapi virus. Sikap ini patut ditiru ketika menghadapi pandemi Covid-19.

Ia menyampaikan pesan Nabi Muhammad yang berbunyi, jika berkembang satu virus di suatu tempat jangan pernah masuk ke tempat tersebut. Kalaupun terlanjur berada di dalamnya, maka jangan keluar dari tempat itu.

"Protokol yang diterapkan itu mencontoh apa yang dilakukan Nabi. Pandemi itu ada. Kalau dibilang tidak ada itu melakukan pembodohan terhadap masyarakat. Tanggung jawab itu nantinya," ungkapnya dalam talkshow 'Santri Sehat Indonesia Kuat' dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional di Media Center #SatgasCovid19 Graha BNPB Jakarta pada Kamis (22/10) pagi.


Menurutnya, santri dan pengelola pesantren tidak boleh berdiam diri menghadapi pandemi Covid-19. Komunitas santri harus proaktif dalam mensosialisasikan protokol kesehatan di kalangan internal maupun masyarakat. Seperti dulu, ketika santri berperan penting dalam merebut kemerdekaan Republik Indonesia.

"Jadi kalau para santri pernah melakukan komando jihad mengusir Belanda maka komunitas santri harus tampil mengusir virus corona dengan caranya sendiri, harus banyak berdoa dan menjadi contoh bagi masyarakatnya," ucap Nasaruddin.

Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan metode pengendalian virus di zaman Nabi Muhammad SAW itu masih relevan dengan kondisi saat ini yang dikenal dengan istilah masa karantina.

Santri yang tinggal di pesantren, katanya, berisiko terpapar virus corona lebih tinggi. Tapi kalau tidak banyak terhubung dengan dunia luar, justru relatif lebih aman. Begitu juga dengan melakukan penanganan karantina di pesantren jauh lebih mudah dibanding di lingkungan rumah.

"Santri yang memiliki gejala ringan mohon segera melaporkan pada pengurus agar segera mendapat tindakan. Dan kalau ada petugas kesehatan dari puskesmas setempat melakukan pengecekan, mohon didukung," ucap Masdalina.

Selain itu, protokol kesehatan dalam komunitas harus tetap diberlakukan. Protokol tersebut di antaranya mencakup #ingatpesanibu untuk #pakaimasker, #cucitangan pakai sabun, dan #jagajarak hindari kerumunan di lingkungan pesantren.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK